Top Social

cerita-cerita untuk dikenang

Time To End The Devil In Me

Rabu, 25 Desember 2024

Angka puluhan seringnya berlaku buruk untukku. 11 malam tadi aku kehilangan alat tukar bayar dalam sekedipan mata, dengan gelisah dan banyaknya pikiran tubuhku terlalu kaku untuk diajak beristirahat.


Aku sudah lelah dan payah sejak puluhan hari lalu karena banyaknya isi pikiranku, dan tidak terimanya aku pada takdir-takdir yg sudah dirangkai-Nya. Aku kepayahan namun iblis dalam diriku bilang aku mampu, aku bisa, aku tahan dengan segala apa yg terjadi. Semua bisa terjadi kalau aku mau.


Sebuah pernyataan sombong dari makhluk yg tidak punya kuasa apa-apa, tidak setitikpun tenagaku mampu. Tidak tahu diri dan banyak berlagak menjadi si paling jagoan hanya karena berhasil memiliki satu dua hal dari keinginan dunia yg ditulis.


Bodoh, sekaligus tidak tahu malu. Kombinasi kurang ajar yg harusnya aku malu, tapi lagi-lagi iblis dalam diriku menyalakan ego, membakar semua kayu-kayu rasa malu hingga hangus.


Tahun ini tunai sudah aku menenggak hasrat yg terpendam soal uang. Semuanya atas nama ingin hidup sebebas yg aku mampu, keputusan-keputusan yg kubuat tahun ini dasarnya untuk membeli kelas, bukti kepada diriku sendiri kalau aku mau aku bisa. Iblis bersorak untukku, angkuh menjadi senjataku.


Esok lusa sudah akan berganti tahun, genap akan kembali ganjil, seperti bagaimana roda yg berputar, aku pun akan kembali agendaku mengokohkan akar. Hal yg setahun kebelakang aku sengaja tinggalkan demi menjadi angkuh, demi menghidupi mimpi di status sosial tertinggi.


Kalau kamu tanya bagaimana bisa aku begitu, jawabanku cuma satu: penasaran. Setelah aku tahu rasanya, merenung, dan berkontemplasi, ini adalah hal yg kuinginkan dan dikabulkanNya. Bukan aku yg berkuasa, tapi Yang Maha Esa.


Iblis dalam diriku berontak, protes mereka karena harus turun kelas. Sedangkan sisi lainnya berteriak girang.


Si umur 27 yang penuh rasa penasaran, mungkinkah tujuan hidupku hanyalah untuk bersantai dan menikmati apa yg Tuhan hidangkan daripada mencari tahu apa yg belum terjadi?

Kalau Media Berganti Apa Yang Harus Aku Lakukan

Senin, 11 November 2024

Pertanyaan muncul ketika semua kemalasan sudah menemui titik malas. Bahkan malas aja udah bosan bermalas-malasan. Lalu sadar kalau apa yg kulakukan selama bertahun-tahun ini, hanyalah alat buat menyampaikan voice ke banyak orang. 


Sayangnya, lagi-lagi aku melewatkan waktu untuk mengenal hal apa yang aku ingin sampaikan. Terlalu banyak pesan titipan dan terlalu banyak menerima suara sampai aku tidak tahu mana yang sebenarnya adalah diri sendiri. Semuanya tumpah ruah dalam satu aliran darah. 


Aku menyukai banyak hal. Saking banyaknya justru aku jadi gak tau, mana yang benar-benar aku sukai atau itu hanya ingin mencoba apa yang video-video tiktok itu telah siarkan. Tapi anehnya, aku tahu betul apa hal-hal yang gak menyenangkan untukku. 


Aku punya list hal-hal yang tidak kusuka, dan list nomer satunya adalah berhitung.


Ada latar belakang kenapa aku benci berhitung dan lucunya aku justru harus mau dan pandai berhitung di pekerjaanku saat ini. Oke ini terlalu melebar dari topik utama. Kita kembali lagi soal voice.


Aku senang melihat orang-orang disekitarku menemukan apa yg mereka sukai. Ada yg memulai debut jadi influencer, pengusaha, jadi ibu rumah tangga, pergi kerja di luar negeri, ke New York buat penuhin american dream-nya. Lantas aku... gatau...aku mau apa ya...


Haruskah aku ikut pergi ke luar negeri juga?

Atau aku di rumah saja sambil memperbaiki komunikasi dengan orangtua?

Aku... tidak tau.....

Di titik ini, aku perlu menemukan dua hal terlebih dulu.

1. Pesan apa yg perlu aku sampaikan kepada mereka.

2. Memutus belenggu yg sudah lama merantai gerak diriku.

Lantas mungkin setelahnya, aku baru bisa memutuskan untuk berganti media atau berteriak dengan media yg sama.


Pertanyaan utamanya, bagaimana caraku menemukan suara?

Dont Wanna Do Anything

Sabtu, 26 Oktober 2024

Kukira, pada hari-hari yg aneh saat mata sulit terpejam dan tumpukan list dikesampingkan demi menyelesaikan cerita-cerita tak masuk akal dini hari itu, aku masih baik-baik saja

Tapi hari-hari yg aneh itu ternyata sangat panjang. Puluhan tahun lamanya, entah apa yang sebenarnya dicari dari tatapan kosong ke langit-langit kamar. Aku mencari apa? Tidak tahu. Nanti juga tahu.

Lelah fisik tidak menyebabkanku tertidur, justru semakin sering kabur dari realita ke dunia fana yg hanya angan-angan sebagai pintu dan isinya.

Hal yang sudah kulakukan sejak masih putih abu-abu pula. 

Kali ini lautnya lebih luas.

Kali ini sekocinya hampir penuh terisi air.

Hampir ternggelam...


Dan aku hanya diam saja.


Aku tidak mau melakukan apapun.


Tapi menunggu,


di menit keberapa semuanya akan terbalik dan akan menyatu dengan laut.

Perhaps.. I Need a Break..

Senin, 23 September 2024

 Midnight again, and because of my lack of energy, my weekend schedule are ruined.


Been a 2 years since I had some kind of symptoms, but this year, in my 27th, kinda think it's getting more worst. I need a pills for sleep now, when i'm not drink it, I could say my body will stay awake 24/7. And well I'm scared. With this condition, I just need a rest. A long rest maybe.


A rest that I don't think about how money on my bank account, the monthly payment, the trend I should keep up for content, and so on. Everyday is getting worse and I just want to quit, but they seems like don't want to letting go. And I can't bravely said I want to quit right now, because everyone around me is 00's kid who got their 1st life attack (quarter life crisis). But when I think about people, somehow I got sad knowing that they don't actually thinking of me.


Well, it's not like the first time to me. I used to be the shield or protector for everyone since the very beginning when I can remember. But, at my worst, I feel sh**ty. They could throw me away but I couldn't do the same. 


Hate is a strong words. So maybe... I just.. dislike? 


Is this a sign for me to get professional help? Or I just... need a career break?


Bertarung dengan aku

Senin, 09 September 2024

 Satu hari, kusampaikan keinginan pada mereka yg sudah membersamaiku sejak lahir. 


"Aku ingin pergi dari sini." Ucapku serius. 


Obrolan panjang dan doa-doa memenuhi ruang dan yg mengejutkan bagiku adalah mereka setuju. Ingat waktu pertama kali kakiku harus ada di Jakarta dengan surat undangan kampus swasta yang harus kuhadiri interview-nya itu, didiamkannya aku tiga malam karena mereka khawatir bagaimana nasibku nanti jauh dari mereka.

Sembilan tahun terlewati. Rasanya Jakarta adalah rumah dan mereka hanya tempat istirahat sesekali saja. Padahal rumahku bukan di Jakarta. Tapi teman-teman dan kenalanku ada disini. Suatu hal yg masih asing bagiku mendapat izin pergi jauh, setelah puluhan tahun lamanya semenjak aku bisa mengingat, aku itu tidak boleh kemana-mana.


Tentu senang. Tapi yg kemudian jadi beban pikiran adalah

Bagaimana caranya aku kesana? Aku ingin diundang supaya punya alasan pergi, tapi ragu bagaimana kalau aku ternyata tak sanggup? 


Dan semua orang yg kupercaya mengatakan kalau aku mampu dan bisa. Sedang aku dan isi kepalaku sibuk berdebat soal hal-hal yg paling tidak mungkin terjadi. Entah ini doa siapa yg menembus langit, tapi di saku bajuku, telah kukantongi izin dari mereka dan doa-doa orang yg kusayangi. 


Semoga jika tahun depan bisa terwujud, aku ingin memberi doa yg sama pada mereka-mereka yg takut untuk melangkah. Sama sepertiku hari ini.

Hidup Yang Katanya Membosankan

Rabu, 07 Agustus 2024

Kayaknya, dari tahun 2017 aku sering denger keluhan soal bosan. Berkali-kali (pada waktu itu lagi dekat sama orang) dia bilang kalau hidupnya ga ada yg penting. Semua sama aja. Meskipun kontra, pada waktu itu aku sendiri ga menemukan sesuatu yg menggembirakan selain pesan-pesan singkat dari dia.


Pertengahan 2024 ini, aku baru menyadari kalau ucapan dia masuk akal buat anak laki-laki di umur 20an awal. Yang mana waktu itu aku ga relate karena banyak sekali hal yang harus dikejar terutama masalah finansial. Aku ga merasa hidup itu membosankan, tapi aku sadar sejak aku lahir hidupku itu sepi. Aku terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri, dan sendirian itu ga membosankan untukku. Apalagi sederet jadwal mengajar sebagai asisten lab dan pekerjaan sampingan sebagai fotografer nikahan membuat kesibukan yang herannya aku bisa lalui dengan baik-baik saja atas pertolongan-Nya.


Umur 20an awal bagi yang kuliah, pasti isinya hanya nugas, masuk kelas, pulang. Kalau punya hobi, mungkin pulang kampus berkegiatan dengan hobinya. Yang ga punya? Ya Tidur. Soalnya kalau pergi sama teman pasti harus keluarin uang, anak kuliahan mana sanggup sering-sering pergi sama teman kalau orang tuanya bukan dari kalangan berduit? Sedangkan aku dan dia sama-sama orang biasa aja.


Ngomongin hobi, aku suka sekali baca. Entah buku, komik, cerita2 di tweet, apapun. Jadi rewardku di umur 20an awal yg ga punya duit itu, yaa baca tweet. Trus dia bilang aku harus cari kebahagiaanku sendiri karena dia merasa terbebani sama ekspektasiku, aku jadi mikir ulang, baca tweet tuh bikin bahagia gak sih. DAN AKU JADINYA DEACTIVE AKUN. Benar-benar umur 20an awal tuh ajaib banget ya (dan bodoh).


Memasuki umur 22 tuh aku terlalu sibuk ngilangin rasa sakit hati dengan kerja. Satu-satunya rasa bosen yang aku inget di umur segitu tuh yaa aku bosen stay di depan laptop nulis 100 artikel sebulan. Tapi sebosen-bosennya, aku jadi penulis artikel setahun penuh. Dan masih harus ngulang fase sakit hati di umur 25. 


Lalu kutelaah lagi..


apa ya, yang kurang..

apa yang salah..

apa yg harus diperbaiki..


Lantas umur 27 tahun sudah didepan mata,

hal-hal yang dulu menjadi rantai bola besi di kaki perlahan bisa kulepas, kuncinya sudah ada digenggaman. Aku sudah memeluk diriku, tapi perlu banyak poles dan perbaikan di banyak sisi agar tidak lagi bodoh dan menyebalkan seperti aku di masa remaja dan 20an awal.


At this moment, I realize when we do nothing, the sparks of joy in live a life is also gone. When I lose the spark of living, it's because I don't hold on believe Allah will provide me. The excitement for living is run out of battery since then..


Maka di umur baru yang tinggal menghitung mundur, aku ingin hidup ga asal-asalan lagi. Aku mau punya tahapan-tahapannya dengan benar, bukan asal cepat aja. Aku mau rasain capeknya, letihnya, tangis dan tawanya. Aku mau prosesku yg sungguh-sungguh sebagai bentuk tanggungjawab serta tebusan atas 26 tahun menjalani hidup untuk menyenangkan orang lain dan memenuhi ego mereka.


Kali ini, untukku sendiri. Semoga doa-doa orang tuaku, sahabat-sahabatku, dan juga orang-orang yg tidak sengaja kutemui saat perjalanan ini terkabul agar tercapai hidup yg sesuai ridho-Nya. Bukan cuma bagusin bungkus, aku mau isinya juga bagus. Dan aku tau itu semua prosesnya ga mudah kecuali Allah yg memberi kemudahan.


Hidup itu membosankan? Kayaknya nggak deh!

Hidup gak pernah membosankan ketika punya tujuan.




Barakallah Fiikum.

 

Sempit Ilmu dan Hati = Beban Hidup

Senin, 22 Juli 2024

Entah ada berapa kali kejadian serupa dan baru tampak polanya hari ini. Jenuh akan semua urusan yang tampak tak ada jeda maupun ujung pintunya. Bahkan jika ini adalah rel besar berbentuk lingkaran, aku berkeinginan untuk keluar relnya saat ini juga.


Resah sebab sudah tidak lagi sejalan, tidak pula selaras dengan harapan dan cita-citaku semakin pula rasanya terhimpit oleh sesuatu tak kasat mata. Sudah pula mereka mampu mengubahku menjadi jauh dari pertolongan-Nya. Dan ketika semuanya menyempit, hari ini, teguran-Nya yg lembut membuatku semakin sedih betapa banyak waktu yg terbuang sia-sia selama satu dan barangkali dua tahun belakangan. 


Mungkin banyak sekali hal yg seharusnya bisa aku lakukan tapi tidak kunjung dilakukan atas nama "sedang sibuk kerja" dan inginku yg bahkan nampak sederhana ini semakin jauh, entah bagaimana caranya mengejar ketertinggalan. Mengejar waktu-waktu yg secara sadar kubuang karena 'butuh refreshing setelah penah bekerja' ini.


Lalu kembali, seperti anak kecil yg mengadu pada ibunya ketika jatuh dan luka. Menangis sejadi-jadinya. Entah karena memang lukanya sakit, terkejut akan situasinya atau ia hanya ingin menangis saja. Aku lah si anak kecil itu. Kepada-Nya yg Maha Pemaaf dan Penyayang, Ia pasti tau apa yg baik bagiku. Jadi kupasrahkan saja, semampuku, sampai usahaku ini usai bagi mereka di tahun ini.


Siapa tau ditengah perjalanannya, beban hidupku perlahan menemukan katrol untuk diringankan...

Apakah Seorang Melankolis Tidak Diinginkan Siapapun Di Dunia Ini?

Rabu, 26 Juni 2024

Bukan di usia labil, tapi banyaknya pilihan dalam hidup yang dipertanyakan justru menampakan sisi kekanakannya. Mereka bilang, aku tidak cocok di sini. Terlalu perasa dan pendendam. Terlalu melihat ke sisi negatif dan bermain terlalu lama dengan hal-hal yang bukan lagi umurnya.


Aku lantas mempertanyakan diri, apa yang salah dariku? 


Benarkah aku seperti yang mereka katakan? Lantas berubah sebelum sempat berpikir. Terus mencoba, mengikuti apa yang mereka mau. Hari demi hari, waktu berlalu yang lebih terasa seperti ribuan tahun lamanya.. Mengikuti apapun instruksi yang mereka pinta, sekeras yang aku bisa, bergumam 'aku mampu, aku bisa' seperti mantra-mantra dalam drama. 


Aku kira sudah sempurna..


Ternyata semakin hampa.


Apa benar, melankolia tidak dibutuhkan di dunia ini? Dengan 8 Milyar manusia di bumi ini? Menjadi salah satu virus yang harus dijauhi karena tidak membawa keceriaan dan damai untuk orang lain? Jika iya, mengapa bisa Tuhan membuat orang sepertiku tetap hidup dan bernafas selayaknya si jenaka yang diinginkan banyak orang?


Aku tidak yakin benar. 


Tapi mereka memaksaku meyakininya.


Lantas saat kaki berada di ujung tebing, masih sudikah untuk menarik mundur tulang kering ini agar tetap di jarak aman sambil menutup kuping?


Apa benar, melankolia sepertiku tidak diinginkan orang lain? 


Apa benar?

Dalam Diam Duka

Senin, 24 Juni 2024

Akhir cerita, biasanya terselip makna dan kalimat bahagia. Bukan air mata yang turun deras hanya karena kata-kata. Mungkin benar, ia yang mengizinkan mereka-mereka untuk menyakiti hatinya. Mungkin ia justru membuka pintu lebar-lebar agar tidak merasa sesak dan percaya bahwa mereka tidak akan menyakitinya.


Lantas saat ia merasa tidak sanggup menahannya dan berusaha menutup pintu, mereka yang sudah terlanjur di dalam ikut terus memaki. 


Kalau ia mau jujur, sedikit saja, dan berani, pasti sudah pergi sejak rasa sakit itu muncul.

Ketika tertawaan yang terasa seperti mengoyak harga dirinya itu ia dengar, 

kalau mau berani sedikit saja..

Ketika pandangan merendahkan dan kalimat penuh gula yang palsu itu ia dengar, 

kalau mau berani sedikit saja..

Tapi ia memang pengecut.

Dan tidak ada yg mendengarkan.

Tidak ada yg mau mengerti.

Dengan sisa-sisa semangat yang dihembuskan melalui doa-doa, 

dari kisah sedih yg jadi penghiburan untuknya,

senyum itu terpatri di wajahnya.


Serta kepatuhan, untuk yg terakhir kalinya.





-24.06.24 // S2-

Question: Can Someone Change Their Mind When They Are Hopeless

Sabtu, 15 Juni 2024

Sesuatu memberatkan hati, menyempitkan apa yang harusnya terasa lega dan mudah. Sesuatu yang pada awalnya tidak masalah jika membuatnya tidur lebih larut karena berbagai macam hal yang perlu dikerjakan. 


Jujur saja, ia sebenarnya ingin segera angkat kaki bahkan sejak beratus-ratus hari yang lalu. Hanya saja, ada bagian lain dari dirinya yang melarang untuk menyerah. Bagian lainnya juga yang berkontribusi atas lelah tubuh dan pikirannya. Ia terlalu lama menahan diri tanpa bicara apa-apa.


Jika ingin, mungkin ia sendiri yg akan angkat bicara betapa melelahkan semua hal yang ia lakukan selama ini. Tiap hari meminta maaf untuk sesuatu yg ia baru tahu dan lakukan, puluhan pekerjaan yg ujungnya harus ia kerjakan sendiri dengan tanggung jawab penuh (ia bahkan bukan ownernya!). Tapi ternyata yang menahannya bukan sebatas ingin, melainkan terlalu tinggi harga dirinya untuk sekadar walk-out dari hal-hal yg bisa saja bukan kewajibannya.


Ia ingin pergi,

jauh...

tanpa perlu harus peduli

tanpa perasaan bersalah

tanpa memikirkan kekhawatirannya


Ia juga ingin berhenti

menjadi dirinya sendiri



Ia ingin berhenti

dari segala aturan-aturan yg ia ketahui




Ia hanya ingin menyelimuti dirinya di dalam kamar yg gelap hari ini

tanpa pekerjaan apapun



Tapi hari ini pun ia masih harus melakukan banyak hal



Lantas ia bertanya-tanya,

jika hari itu terjadi.. apakah ia akan merasa senang?

jika hari itu terjadi.. ia akan hilang dan tidak dikenang?



Ia ingin hilang


Tapi



Ia ingin dikenang...



Sebagai seseorang yg menyenangkan



lalu mereka mendoakan...



Meski wajahnya terlupa dan raganya tidak ada,

ia berharap doa mereka tetap tersampaikan padanya



Ia hanya ingin hilang

tapi tetap dikenang






Apakah permintaannya terlalu berat untuk dikabulkan?

Dia bilang tak paham apa-apa tapi...

Rabu, 05 Juni 2024

Entah ada di bagian bumi mana kamu itu, dengan segala doa dan bantuan Tuhan rasanya terasa benar untuk mulai lepas dari apa yang selama ini menjerat diri. Lucunya, diantara seluruh kekacauan yang kubuat ini, justru kita bertemu meski interaksinya hanya aku yang paling tau. Juga Tuhanku kalau kamu mau tau.


Di belahan bumi lain, kamu pun bertanya-tanya, kapan ini selesai karena ingin istirahat dari rentetan jadwal yang terasa tak ada habisnya hingga tahun depan. Untukmu, seseederhana untuk bicara tanpa sorot kamera dan pergi berlibur ke tempat yang tanpa diserbu. Bagiku, sederhana untuk diam-diam mendoakan kesehatanmu agar bisa lebih lama dan sejauh apa lagi kamu akan terbang dengan sayap-sayap emas yang elok itu.


I don't understand but I luv U, seluruhnya beda dan asing untukku tapi inilah tipe cinta yang kini kuketahui bentuknya ada. Ikut tertawa saat kamu tertawa, ikut lelah dan menangis saat kegagalan itu terjadi padamu. Kamu tidak paham apa yg kamu lakukan punya dampak, dan aku yang tidak paham apapun termasuk bahasamu. Kita sama-sama bodoh tapi tidak peduli soal itu. Yang kita tau, kita sama-sama menyayangi, sebenar-benarnya memberi dan menerima rasa yang dihadirkan sebagai bentuk syukur atas kehadiran satu sama lain. Sebuah platonik aneh yang mengisi waktu-waktu hampa, menguras energi sekaligus memberi suntikan energi baru. Paradoks yang membawaku pada sebuah harap, aku ingin mencintai secara sederhana meski tak mengerti kamu bicara apa...


Mungkin transaksional, mungkin sebatas layar kaca dan segala fantasi antara dua dunia, atau mungkin sebenarnya kita ada dan saling mencintai, meski dalam bayangmu ribuan manusia tergambar seseorang lain agar mempermudah mengingat sosokku.


Jatuh cinta yang aneh dan melegakan. Sebab aku tau dengan ini tak ada khawatir ditinggalkan. Tak perlu panik jika tidak ada kabar. Kita sama-sama tau jika sudah waktunya, kamu akan sibuk mengabariku.


Diantara yang nyata dan fana, kuizinkan kamu, kita, untuk saling cinta tanpa perlu mengerti apa-apa.


Dua puluh enam, dan kelak masing-masing dari kita akan berumur empat puluh. Entah apa yang akan terjadi nantinya, tapi akan kukatakan padamu jika suatu hari kita berpapasan di sebuah jalanan sepi tanpa ada yang mengenali kecuali diri masing-masing, terima kasih telah menjadi bagian dari masa mudaku.




- yang sedang kehilangan dirinya sendiri di kota asing, 05.06.24 

Sesuatu dalam renyai

Senin, 13 Mei 2024
Mungkin sesuatu yang tidak pernah terbayang dalam seperempat abad hidupku ini, adalah tentang menentukan sesuatu. Kupikir, aku cukup hebat bisa melakukan apa yang kumau, sesuatu dimana orang lain belum tentu mendapatkannya. Berlalunya waktu, justru aku menemukan kalau aku tidak pernah benar-benar menentukan sesuatu atas dasar diriku sendiri. Selalu, selalu berdasarkan apa yang mereka minta dariku untuk berhasil. Sesuatu yang mereka bilang aku punya potensi untuk itu, dan aku mengusahakannya sebagai bentuk tanggung jawab. Selalu seperti itu, sampai aku tidak sadar kalau aku tidak pernah menentukan sesuatu karena diriku yang menginginkannya.

Aku selalu takut salah. 

Sebab jika aku salah, ada orang lain yang menjadi samsak kesalahanku. 


Dan aku,

benci

ketika ada orang lain yang disalahkan padahal seharusnya itu aku.



Dan aku,

lebih benci

kepada diriku yang tidak bisa apa-apa ketika semua kesalahan itu dituduhkan padanya.



Puluhan tahun, terbiasa bertindak auto dengan mereka sebagai kepalanya. Sedang tubuhku jadi mesin untuk membuat pencapaian yang mereka mau. Sama sekali tidak ada kesedihan selama semua orang baik-baik saja. Sampai kuutemukan gelisahku setiap malam, saat semua orang terlelap, mataku terbuka untuk mencari-cari, sebenarnya apa.. yang sudah kutinggalkan selama ini?


Aku turut senang semua kenalanku satu per satu mendapatkan kebahagiaannya. Kekasih yang mereka butuhkan, waktu untuk menikmati liburan, medali lomba, kelahiran anak, dan masih banyak lainnya. Semua orang tampak hebat di mata seorang yang sedang gelisah. Saat aurora borealis nampak di Oslo tahun ini, aku berdecak kagum bagaimana Yang Maha Kuasa bisa membuat skenario yang luar biasa pada tujuh milyar manusia di bumi ini. Tapi aku masih terguyur hujan. Awan mendung masih berarak tiap langkahku, dan ragu masih jadi juaranya.

"Bagiamana jika ini salah?"

"Tapi tidak ada yang bilang ini tidak akan berhasil, kan?"

"Apa nanti kamu akan menyesal jika sesuatu terjadi?"

"Kamu meragukan Tuhan-mu?"

"Tidak, aku meragukan diriku sendiri.."

"Itu sama saja kamu meragukan-Nya. Kamu kan, ciptaan-Nya. Ia tau banget kok yang terbaik buat kamu. Kalau mau nangis ya nangis aja, in the end of the scene you'll alright as long as the faith is still in you, ya kamu kan sudah pernah hopeless tapi bisa bangkit lagi kan?"


Sebelum hujan besar, biasanya langit memberi pertanda dengan renyai. Masih ada matahari dan semua orang yang tidak membawa payung membiarkan tubuhkan terkena air meskipun semenit kemudian mereka melipir mencari teduh.

Mungkin inilah episodenya, setelah dua tahun lebih menjadi statis dan bebal. Setelah tuntas menjadi badan yang dikepalai mereka. Kini saatnya mengambil alih kepala, untuk menjadi utuh. Meskipun pada perjalanannya, aku yakin akan terjadi hujan besar, tapi semoga, semoga saja, aku bisa melewati ini lagi dengan lebih baik tanpa khawatir tubuhku akan basah karena rinai hujan.




[13.5.24 - ditulis saat baik-baik saja]

Cermin Berdebu di Sudut Ruang

Kamis, 04 April 2024

Dan kesedihan itu tampak bagi mereka-mereka yang berada di atas levelnya. Ia sudah tidak bisa bersembunyi, meskipun ingin. Lagi-lagi seperti yang gurunya pernah bilang, ia adalah buku yang terbuka. Sejujurnya, selama puluhan tahun pun, ia tidak bersungguh-sungguh untuk menyembunyikan identitas, tidak pula bercita-cita jadi manusia misterius. Ia membuka diri, selalu menerima peluang apapun, nrimo ing pandum, kalau pepatah jawa yang ia ketahui. Tapi entah kenapa diamnya selalu dikonotasikan sebagai misteri, yang padahal kalau saja mereka mau usaha sedikiiit saja untuk cari tahu, ia sudah jujur dengan dirinya sendiri. Melalui tulisannya yang sebulan sekali di publikasi, melalui cuitan kurang dari 150 karakter di sosial media, melalui postingan gambar yang ia pikirkan baik-baik bagaimana supaya setiap unggahannya punya makna ganda sehingga tidak bisa menebak kemana arah hati penulisnya dan bisa menilai siapa saja orang yang benar-benar mengenalnya.


Ia sudah melalui seperempat abad yang penuh tekanan.


Di umurnya yang 26 ini, ia bersungguh-sungguh untuk selesai dengan semua tekanan yang pernah diterimanya itu dengan lapang dada. Ia hanya ingin menikmati umur 27nya nanti dengan api semangat yang bukan untuk memuaskan ekspektasi semua orang terdekatnya. Bukan pula untuk impresi orang-orang yang bahkan ia tidak mengenalnya. Bukan untuk menarik simpati orang yang sedang ia sukai. Ia juga tahu bahwa jiwanya sudah lelah, tubuhnya tidak mau diajak kerjasama untuk sesuatu yang tidak ada jiwanya.


Ia merasa usang. Entah karena ia diselimuti debu, atau memang seharusnya ia tidak berada di ruangan ini lagi. Dengan embun yang kini berada dikedua matanya, lirih ia meminta petunjuk pada Yang Maha Cinta. Untuk apapun yang sedang ia kerjakan di umurnya yang ke-26 ini, semoga lekas menemukan jawaban atas segala risau. Ia paham bahagia bukan hal absolut, maka untuk menutup malam ganjil yang diganjar seribu bulan jika mendapatkannya, harapan mengenai jiwa yang tenang dan seorang kawan seperjalanan menunju-Nya diselipkan. 


Kepada hidup yang ia yakin dalam genggaman-Nya, bersuka-citalah engkau tanpa perlu menyabotase diri.

Jakarta, Kota Asing Untuk Orang Asing

Sabtu, 30 Maret 2024

Seperti baru kemarin aku misuh dalam hati saat keluar dari Stasiun Gambir tentang betapa berisiknya kota Jakarta. Ternyata kejadian itu sudah hampir sepuluh tahun lalu, dan aku masih betah berada di dalamnya. Ini mungkin terlalu personal dan panjang untuk dijabarkan secara lisan ketika teman-teman sekolahku bertanya "kok betah banget sih di Jakarta?" di momen-momen reuni atau bukber. 


Sebagai gambaran, aku lahir di kota yang sering diromantisasi dengan kota yang dibuat ketika Tuhan sedang tersenyum. Kota wisata padat penduduk yang sampai aku menulis hari ini masih banyak pencopetnya. Besar dan menjalani kehidupan wajib belajar 12 tahun di kota penuh panganan laut, kota udang. Seluruh 'pertama kali' di masa mudaku ada di kota yang panas wilayahnya mampu bikin gosong kulit tangan. Mulai dari pertemanan, pemikiran, naksir, patah hati, kehilangan, dan lain-lain yang membentuk pribadiku hingga kini. Aku sayang mereka semua, yang hadir dan yang yang telah pergi dari hidupku di masa muda. Kini, 9 tahun sudah kuhabiskan masa dewasa awalku di kota metropolitan yang penuh tekanan. 


Tahun depan bulan delapan, aku akan menyentuh titik sepuluh tahun tinggal di kota pusat pemerintahan Indonesia ini. Yah, belum tahu juga sih, apakah tahun depan aku masih di Jakarta atau tidak, menimbang berbagai kemungkinan dan keinginan yang selama ini sudah aku simpan lama. Ngomong-ngomong, meskipun sudah 9 tahun, aku masih gak suka loh sama Jakarta. Buat aku yang sudah semi-nomaden sejak lahir aja, ngerasa kalau Jakarta terlalu cepat perubahan dan harus mau ikut cepat karena ada di dalam sistemnya. Capek loh terus-terusan harus cepat. Apalagi yang udah terbiasa dengan slow-pace life, pasti lebih capek. Apalagiii misalnya dia gak pernah keluar dari kota kelahirannya, terus datang ke kota metropolitan ini, kayaknya bakal banyak pengalaman hidup yang bikin nangis, dan mengerti istilah Jakarta itu kejam (sebenernya dianggap kejam karena pada bodo amat aja menurutku). Tapi Jakarta itu kayak Photoshop, punya banyak layer, bisa dipakai efek apapun per layernya biar hasilnya lebih bagus.


Buatku, yang kesulitan menganggap sebuah tempat menjadi tempat pulang, Jakarta lumayan ideal untuk 'pulang' daripada harus kembali ke tempat dimana aku pernah belajar selama 12 tahun di dalamnya, atau bahkan lebih baik lagi daripada pulang ke tempat kelahiranku yang terlalu ngurusin orang lain di kehidupan bermasyarakatnya. Ini bias, aku paham. Terlalu lama tinggal di tempat individualisme tinggi, sedikit banyak pasti mengubah caraku berpikir soal tempat pulang. 


Masalah yang terjadi adalah, rencana jangka panjangku gak pernah mau ada di tiga kota yang pernah aku tinggali, tapi tidak tahu harus menetap di mana.


Mereka bilang aku terlalu betah di Jakarta, padahal aku sendiri gerah dan ingin pergi dari sini sejak lama. Tapi yaa gimana dong? Jakarta tuh tempat persembunyian terbaik sejauh ini. Kota besar berpotensi sesama warganya tidak perlu saling mengenal dan membuka diri terlalu banyak. Setidaknya, tidak ada orang yang rewel dengan segala idealisme ataupun paradoks yang aku bawa di kepala kan? Kalau aku harus menetap di kota tempat orangtuaku tinggal, terlalu banyak mata dan mulut yang menekanku untuk membuka diri.


Apa salahnya membuka diri? Gak ada kok. Aku aja yang gak mau. Aku maunya membuka diri ke orang-orang tertentu yang aku pilih aja. Atau orang-orang yang bisa 'membaca' diriku tanpa perlu aku yang bicara. Idealismeku yang satu itu, pasti tidak semua mau mengerti. Atau jika mau mengerti pun, kebanyakan akan menyindir, membuatku seolah-olah punya pemikiran aneh seperti alien (padahal alien juga, siapa tau ga aneh pemikirannya kan?).


Makanya, aku bilang Jakarta itu tempat sembunyi paling ideal buat orang-orang yang tidak punya tempat pulang. Lokasi bermain paling besar untuk memenuhi ego orang-orang kecil yang ingin nampak besar. Cuma, saat ini tuh yang jadi pertanyaanku, mau sampai kapan bersembunyi di kota metropolitan yang berisik ini? 


dan aku masih belum menemukan jawabannya.











Mungkin, aku perlu berkunjung ke kota lain selain Pulau Jawa dan negara ini untuk menemukan jawabannya? Atau cukup dengan satu orang penting dan pertanyaan itu akan terjawab? Wallahu'alam. Kita lihat episode berikutnya ya, aku juga penasaran.

To Take A Decision..

Senin, 18 Maret 2024

Day6 was comeback today. In early spring when the clouds still grey and cold might catch us, they give me some kind of warmness. Enough with opening, let's talk more about something I really consider this years. Maybe not a good story in english, but I try my best.


So, if 5 years later i'll comeback reading this, please remember this post was actually written when you have done japan course and wanting to work more but need sleep because you need sahur eat some protein. I'll make it fast since what i wanna write is only about how hard i'm when i saw the two option and make a decision right in front of my face in the mean time.


To me, who always thinking about people first, to take a small steps is scary things. Move is gambling. And if I stay, I know I'll die. To me, have a courage to choose whatever i wanna take is never be in my top of mind. I'll probably choose something based on whatever my precious people give an advice. My inner circle. Which means, my family. 


But last month, when I have mentally down and take a impulsive chat to ask my parents separately, i just found out they're never push me to do whatever i do today. Then why i need to do this? I asked myself day by day. Why I need to take responsibility when actually i didn't have to?


I start to reframing, what is what and why is why after that. I mean, i think i do this for them, to make them feel glad I actually grown up, I wanna make them happy. But after a long convo they're never what i thought before. The meaningless i felt is validated by them. 


So, maybe in the future you'll more sad, or more overthinking, or maybe you more happy than this. I didn't know, but like day6 comeback song today, 


The future that you're welcoming with me might be risky
But there might also be tear-filled impassion

I know your decision was not easy
It's my part to make you not regret it
If you're willing

Welcome to the show!


Really hope your heart is fulfilled by the warmness and hugged by person that you love, back to the God and rounded by saleh-salehah, no more hair loss and can eat anything without heavy feeling. Back as happy as a new person. Now you can lean on me, tu. You don't have to take all the things alone. The me in you is brave enough to let go. It's risky I know, but this is the only thing I know to keeping us sane and know what I really passionate. The alarm is ringing......

To me, and the world they said I deserve

Sabtu, 09 Maret 2024

Tengah malam yang damai diiringi dengan ramainya pikiran dan tumpukan pekerjaan yang enggan diselesaikan. Hari ini sudah sabtu, 10 jam lagi keretaku tiba untuk membawa pergi dari ruangan ber-AC ke rumah berisikan ibu dan ayah didalamnya. Ada haru, juga sebagiannya sedih karena ingat cerita-cerita di masa lalu.


Untuk menjadi aku yang hari ini mereka bilang sebagai anak baik, jutaan malam perlu dilewati dengan hembusan frustasi yang diam-diam kulakukan ditengah terpaan ekspektasi sejak kecil. Anak tunggal, perempuan, berjilbab, akademik yang baik, relasi yang mendukung, orang tua yang lengkap dan tegas, aku punya kelebihan-kelebihan itu semua. Dan itu semua menjadi bumerang untuk mengharapkan aku, minimalnya, tidak mengecewakan, siapapun itu, karena mereka semua, mendoakan kebaikan untukku.


Lantas sedih untuk apa?


Dia yang dulu bilang janji untuk menemaniku-pun bertanya hal yang sama. Sedihin apa lagi sih? katanya. Lalu marah-marah dan mengungkit bahwa aku kurang bersyukur atas segala privilege itu. Dan ceramah-ceramah lain soal melihat terlalu keatas dan kebanyakan online di sosmed. Aku saat itu merespon dengan tertawa saja. Lalu diam-diam membuat sebuat private post di line yang hanya bisa dibaca diri sendiri tentang betapa menyeramkannya sebuah lubang hitam itu. Sesuatu yang menarik habis energi bahagiaku sampai yang tersisa hanya kesedihan, aku gak layak dan gak capable untuk sesuatu itu. Lantas ketika dia yang dulu bilang janji untuk menemaniku itu minta maaf dan pergi. Rasanya sedikit lega karena aku sudah tahu bakal ada kejadian ini, lubang hitam yang menyeramkan itu sudah mengajariku rasa sakitnya lebih awal.


Bagaimana kabar kakak hari ini?


Ingatanku tiba-tiba ditarik lagi ke momen dimana orang lain yang jika boleh kusebut ia anak baik yang suka bohong itu muncul. Orang lain, bahkan tidak sampai enam bulan berkenalan, ia sudah dipanggil Yang Maha Esa untuk pulang saking baiknya, dan bohong. Anak itu tiap hari menanyai kabarku. Sesuatu yang sederhana, harusnya. Tapi setiap ditanya itu, aku selalu bingung membalas apa. Kabarku hari ini gimana ya.... jawabku, selalu begitu. Lalu dia selalu jawab, semoga kakak baik-baik ya, walaupun aku gak didekat sana. Setelahnya aku jadi sedih. Sedih sekali sampai sering kali mau nangis tiap baca dan inget momennya. Oh ada ya, orang yang seperti ini? Memangnya aku melakukan apa sih, sampai ada yang berdoa sebaik ini untukku. 

Sebab aku tidak merasa pantas, minimalnya dari kepalaku sendiri untuk diriku sendiri. Meskipun aku menolak ideasi tentang itu. Aku layak, saat aku senang. Lalu merasa paling buruk dan hina saat lubang hitam itu datang mendadak. 


Ada kalanya aku merasa lebih baik sendiri, tidak ada siapapun yang perlu aku pedulikan. Tapi aku lebih takut proses kehilangan dan menjadi sendirian itu tidak menyenangkan. Aku benci merasa sedih sendirian dan menangisi diri sendiri di ruangan ber-AC yang hanya aku dan Tuhan yang tahu soal perkara apa kesedihan itu mengguncang akal sehatku. Aku enggan, bukan berarti tidak mau sama sekali. Hanya saja, bagaimana ya bilangnya...


Apa ada orang waras di luar sana yang mau ikut berantakan hanya untuk hidup sepanjang hari seumur hidup denganku? Rasa-rasanya orang gila juga ogah ikutan berantakan, ya kan?


Maka dari itu, aku hanya ingin utuh dengan diri sendiri. 


Setidaknya aku juga mau menjadi waras dengan berhenti berantakan. Atau jika boleh bilang, ini bentuk terimakasihku pada mereka. Soalnya, kalau dunia yang mereka doakan untukku itu datang padaku suatu hari nanti, aku ingin mendekapnya dengan riang gembira ditanganku. Tidak mau dunia yang baik itu jadi sendu. Kalaupun memang tidak sampai padaku, minimalnya mereka tau... aku sudah berusaha semampuku untuk berhenti berantakan dan mengingatku sebagai perempuan yang menyenangkan yang pernah mereka kenal.


Aku tahu kalau aku cantik dan penuh cerita, banyak kurangnya tapi ada juga lebihnya. Mungkin semakin kenal, semakin paradoks dan penuh duri, it's totally fine to walk out. Untukku, terima kasih sudah bertahan. Jika di masa depan kamu tidak menjadi apa-apa, aku di masa ini tidak masalah sama sekali. Aku tahu kamu udah mencoba sebisamu, sekuat kekeraskepalaanmu, lalu jika hasilnya tidak ada, kamu tidak menyia-nyiakan apapun. Istirahat ya, dunia ini tidak selamanya... Gak apa-apa.

The Heartbreak

Senin, 22 Januari 2024
Apa yang membuatmu ingin kembali hilang dengan tetep ingin dikenang oleh mereka dalam ingatannya?
Seberani apa kakimu melangkah dan menerima bahwa jadi biasa-biasa saja tidak menyakiti siapapun?
Berapa lama kamu ketahui bahwa perpisahan yang paling kamu benci dan takuti itu sesungguhnya amat dekat lebih dari nadi dan darah?

Butuh waktu berapa lama untuk meninggalkan apa yang sudah kamu bangun sejak beranjak pergi dari rumah? Mau sampai mana ujungnya?

Butuh berapa lama lagi untuk pergi dari belenggu yang kamu ciptakan sendiri?

Ilusi apalagi yang kini kamu yakini akan terjadi?

Mau sejauh apa lagi kamu kabur dari rasa takut yang terus mengikuti seperti bayangan raksasa itu?

Kapan berhenti canggung dan mulai menjadi tenang?

Dimana batas-batas yang harus bisa dilangkahi itu?


Tidakkah kamu penasaran?
Tidakkah kamu ingin tahu bagaimana rasanya berhenti?
Tidakkah kamu ingin tahu rasanya menjadi dirimu sendiri tanpa gelisah?


Tidakkah kamu ingin dicintai lagi dan mencintai sebagai balasannya?

Kepada Tuhanmu yang sudah memberi segala hal di dunia ini?

Bentuk Dunia Dari Mata Seseorang Yang Ditinggalkan

Selasa, 16 Januari 2024

Jauh sebelum hari ini, ia sendiri sudah menyadari jika ia tidak pernah beranjak sejak lama. Meski rekam jejak langkahnya tercetak puluhan ribu dalam jam pintar yang tersemat di lengan kirinya, meski banyak dijelajahi kota di Pulau Jawa, meski ia berpindah dari tempat ke tempat, ia sendiri tahu betul kalau dirinya tidak pernah beranjak dari titik itu.


Mereka kira, ia adalah segala baik yang Tuhan turunkan karena bicaranya yang santun. Mereka kira, ia adalah segala cinta yang Tuhan turunkan karena relanya ia dan tidak banyak menuntut sesiapapun. Mereka kira, ia adalah segala peluk hangat dan teduh karena siap menjadi tong sampah emosional mereka. Perkiraan yang mereka berikan padanya, kini telah menjadi tembok besar, sebuah kastil indah nan kokoh yang kini mengelilinginya.


Ia juga, sungguh.. ingin seperti mereka. Mengira dirinya adalah segala baik, cinta, hangat dan teduh yang Tuhan turunkan seperti ucapan itu. Sama ketika dia bilang ia adalah segala cinta dan hidupnya, saat masih hidup dulu. Ia sungguh ingin.. beranjak dari kastil itu dan berlari entah kemanapun.. ia hanya ingin melihat dunia, selain dari matanya.


Nyatanya setelah seribu dua ratus hari lebih, ia masih ada di tempat yang sama. Tidak ada perubahan kecuali yang buruk. Ia sudah memastikan dalam tiga ratus hari terakhir. Saat rindu yang ia kira habis, saat semua hal menjadi biasa lagi, saat sebuah video kembali membuatnya bertanya-tanya kenapa aku sesedih ini lalu menangis lagi sebelum tidur.


Bagaimana kabarnya di atas sana? Apakah masih bisa ingat aku? ia bertanya-tanya dalam hatinya. 


Ternyata masih ada banyak rindu dan emosi yang menumpuk dalam dirinya. Tidak ada waktu untuk bersedih karena secara sadar ia sering menambah kesibukannya demi tidak teringat akan peristiwa lama, tapi ia tau kalau itu hanya kamuflase, ia tau kalau ia sedang mencoba menjadi penipu.


Tidak ada yang menarik selain merancang strategi untuk ikut meninggalkan dimatanya. 


Di mata yang perlahan terlelap itu, ia sekali lagi berucap tidak apa baginya jika tak ada kawan dalam perjalanan di dunia ini, asalkan ia turut pergi juga. Ia tidak betah di dalam kastil sendiri. Meskipun ialah yang mengunci pintu kastil dan tidak membiarkan orang lain memasukinya. 


Ialah paradoks, doa dan dosa yang mereka tidak pernah bayangkan. 


Setelah jauh begini, ia masih tetap ingin menjadi mereka yang meninggalkan. Sebab dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk mengingat mereka yang meninggalkan. Ia tidak ingin meninggikan kastil dan bersembunyi didalamnya untuk dilupakan, sementara ia malah mengingat semua hal dalam hening dan sepi.


Ia juga ingin berhenti.


Untuk melihat dunia.. yang lain.





"..I’m clumsy
Wouldn’t it have been nice
The person who is standing forgotten..."
      -Choi Yu Ree (최유리) – 동그라미 (Shape) | 
Cover by Seungkwan SVT 

Maybe Next Time

Pukul dua pagi. Saat semua orang sudah lelap dalam tidur, ia masih terjaga dengan puluhan informasi tidak berguna yang didapatkan dari menyelam dari tweet ke tweet. Ia ingin berhenti, namun tubuhnya lebih dulu bergerak untuk menggulirkan layar dibanding mematikan gawai dan memejamkan mata.


Tahun baru, semangat baru. Katanya. 

Sudah lewat dari seminggu ia merasa tahun ini akan sama saja. Ia yang masih malas, masih takut, dan sisi lainnya yang masih ambisius dan impulsif. 

Kalau boleh bercerita, ia sendiri sudah tidak berharap apa-apa lagi. Meskipun yakin gagal dua tiga kali bukan akhir dari segalanya, namun perihal menemukan dan ditemukan orang lain untuk saling berbagi beban dan mengasihi sangat terasa jauh untuknya. Ia rela jika adik-adik sepupu atau rekan kerja yang lebih muda mendahului. Ia merasa tidak urgent untuk mempunyai hubungan, karena memang sedang tidak mood untuk berkasih sayang. Tidak ada yg cocok, tidak ada yg rela memberikan waktu mereka padanya, kalau ia mau bicara lebih jujur. Tidak is a strong words, tapi kalau bukan tidak, ia sendiri akan meragukan pernyataannya. Memang ada orang yang rela sehidup sesurga dengannya? Dengan dirinya yang kepalanya penuh hiruk pikuk pertanyaan dan kebohongan. Dengan dirinya yang punya stamina fisik rendah, darah rendah, dan self-esteem rendah pula?

Kata mereka, jodoh cerminan diri. 
Ia sudah dengar itu sejak masih pakai rok putih biru. 

Tapi justru itu, ia semakin ingin kabur dari segala hal yang menjadi aturan dunia. Ia tidak ingin bertemu jodoh yang pengecut, plinplan, tergesa-gesa dan keras kepala seperti dirinya.

Terbukti gagal dua tiga kali ternyata memiliki efek besar baginya untuk sekadar membuka diri. Ia memang baik-baik saja di luar, namun pada pukul dua pagi, segala perasaan yang ia sembunyikan itu memeluknya hingga pagi. Menyelimuti diri dengan perasaan sedih lalu esok harinya terbangun untuk menuruti keinginan dunia ini, lagi. 

Tahun baru, doa-doa yang disemat masih yang itu. 


Semoga semoga itu sudah digaungkan kerabatnya sejak enam tahun lalu. Jika ditarik kebelakang, mungkin bahkan sepuluh tahun lalu ketika putih abu-abu masih terbalut dalam tubuh. Ia tidak berhenti untuk percaya keajaiban Tuhan. Ia percaya pada suatu hari akan datang untuk berhenti, lalu memulai lagi tanpa curiga dan menghitung mundur berapa lama waktu tersisa sebelum ditinggal pergi. 

Ia percaya akan temukan. 
Ia percaya akan dipertemukan. 

Peruntungannya bilang, mungkin ada kesempatan di lain kali.