Top Social

cerita-cerita untuk dikenang

Kenapa Jakarta

Senin, 01 Desember 2025

 1st December and all I can think is "kenapa balik lagi ke Jakarta ya?"


Kayaknya aku udah percaya diri leaving for good this big city, gak cuma sekali tapi dua kali. Yakin pergi dari kota yang penuh mimpi dan bergerak dari kota kecil entah di timur atau barat pulau jawa. Tapi seyakin itu pergi, ternyata seyakin itu juga kembali.


Ada hal apa yang belum kuselesaikan di Jakarta sehingga ceritaku masih berlanjut di kota ini meski sudah tahun ke sepuluh?


Rahasia apa yang nantinya membentukku jadi aku versi lebih baik?

Overwhelming moment and my brain freeze

Rabu, 26 November 2025

This year is crazy! I finally resign in May, starting life as freelancer girl who slow living in Jogja but then it just ended in first week of August, cause I'm starting life as corporate girl again in September. Then I started my umrah journey in last October until second week in November. 


In that short time and I experience alot so I don't know what to write. Feeling blessed yet confuse why the rizq found me when I'm feeling just sitting and do nothing. I believe this is my mom's and her mom (my grandma!) du'a that I can have a great life like this.


RIP my grammar but this is at least not AI! May the blogger last forever cause this is the only escape place I can long yapping about my life without interruption, no need scared about insight and judgement LOL. I love blogger so much thank you for existing this platform <3 


BTW, next month is December. It is really the time I need renew my goals LOL too fast I guess??? Oh! I want to write 30 day in December about Jogja and my umrah journey too. Maybe in english to improve my grammar thingy but I'm still wanna write in Bahasa Indonesia too huhu apa bikin paragrafnya indo inggris gitu ya ahahaha si niat tuh nulis setengah2. atau kalo ga ya seperti biasa aja lah nulis jaksel make it exist first ya kan!


Well, I'm starting to love myself... maybe because I'm already achieve what I want? Or because I have my own money for myself? Hehe. Still I'm glad to still alive until today... 

The hopeless romantic

Selasa, 23 September 2025

Postingan blog kali ini akan tidak terstruktur, serampangan dan terlalu klise sebagaimana ketika kamu sedang jatuh cinta.

Hey, aku tidak bilang kalau penulisnya sedang jatuh cinta ya. Hanya saja, penulisnya memang mendambakan konsep jatuh cinta. Tapi ketika disuruh jatuh cinta, ia kabur. Sering terjadi.


Mungkin ini akan jadi dongeng di masa depan. Lihat bagaimana semangatnya hanya dalam waktu kurang dari satu bulan, ia sudah menulis lagi. Topiknya masih sama, soal ia tidak mau jatuh cinta karena tidak yakin akan tinggal di negara ini terlalu lama. Lucunya, ia malah menemukan sosok ideal secara konsep pikiran itu dalam bilik suara. 

Butuh waktu 190 menit untuk merasa setengah yakin kalau suara diseberang sana adalah sebagian dirinya yang hilang. Sayangnya, lagi-lagi ia merasa kalah dari ketakutan dan rasa naif. Ia ingin segera kenal, disatu sisi ia tidak ingin kenal terlalu dalam. Karena sudah pasti, ini adalah gerbang terakhirnya. Yang mana bila runtuh, habislah sudah rasa cinta pada pasangan seperti di film-film itu. 

Ketakutan namun juga penasaran, ia menjelma jadi sebuah narasi fiksi yang penuh plot twist dan sad ending. Pun beberapa diantaranya ia sengaja membuat alternatif dengan akhir yang menyenangkan. Bentuk rupa yang tidak ia kenal, tinggi, dan ciri fisik lainnya tidak ia ketahui. Yang kepalanya rekam hanya bagaimana suara itu menenangkan kuping dan perasaannya selama tiga jam dalam demam semalam.

Tapi kisahnya belum akan usai, mungkin tahun depan ia akan membuat ini selesai dengan menulis ending yang jelas. Tapi ia perlu tahu dulu, apakah dirinya dan seseorang dibalik suara malam itu masih ingat soal tanggal keramatnya? 

Sebuah konsep drama komedi yang ia tulis apakah lebih banyak humor, atau horor? Kita tidak tahu. Aku pun ikut penasaran dengan kisahnya.

I do not let my self fall in love. Not yet.

Selasa, 09 September 2025

Everyone gathers at one table, eating their food and talking about their love lives. It feels like a scene from a Metropop novel until they turn to me. My love life is a mess, my brain said that but my lips keep silent. I don’t want to share that either so I try to slide the topic elsewhere, and luckily, the break time ends. 

But deep down, on the train ride home, I ask myself: when will I actually allow myself to turn off survival mode and start planting love again? Until now, I still don’t have the answer. Maybe it’s when I’ve checked off everything in my wishlist book? Or maybe… when someone chooses to love me unconditionally. 

But the truth is, I can't love unconditionally either. I want a love that’s mutually beneficial- for both of us, in this world and the next. It might sound boring or too religious, but I grew up with this kind of idealism. So here I am. 

See? 

Do you see? 

I can’t love someone without mirroring myself, asking what I’ll gain and what he’ll gain if we’re in a relationship. People say love isn’t supposed to be like that. But for me, I need to measure it. No one seems to understand. Or maybe they do, like NIKI said: “You tell me I’m nice, but I know I’m only a hostel” and they're leave.

To be honest, it feels like a fairy tale to have someone you can truly lean on. And as a grown woman, fairy tales are something we hate cause they only sell a dream we can’t really buy. Something “fairy” is both scary and beautiful.

In this capitalist world, can we really find pure love?

I’d say we can’t. But it’s okay if you want to hold on to that ambition of finding pure love. As for me, I’ve had enough of love stories. I just want someone who respects me, shares the same vision, and grows together. But not today. I’m still in survival mode. 

Maybe it’s also because I plan to leave this country, and it would be sad to fall in love now. I don’t want to be separated from a partner (if I had one) that’s why I don’t allow myself to fall or search for my half deen.

I believe when everything aligns with Allah’s plan, we’ll meet under better circumstances.

Maybe in my late 20s, or early 30s, who knows? I’ll keep fighting for myself, so my half deen will do the same, right?

Balance in Disguise

Kamis, 04 September 2025

Always go odd, but today feels even. Yep, you read that right. Only for today, I choose even numbers. Usually 1 or 3 or 9 or 7, but today is 4. Well, I don’t know why my mom gave birth to me on an even day, but in an odd month and year. I fear I might just be a “balance” person in life, lol.

Honestly, I don’t have much energy to write, since my country’s been messed up since August. Sigh. I’m so tired today too. I haven’t had proper sleep for a week straight, overthinking my country might collapse overnight while I’m away.

Oh, by the way, another major life change again: I’m finally opening myself up to the corporate life game yuhuu?! I already won the startup game lol, so yeah, new challenge at 28, corporate life. It doesn’t sit right when you hear it, right? But well, God is good and gave me a chance. Maybe I need to learn how B2B runs and how to make system copies for the business I’ll run someday? Nah, nan mola.

Today I’m just yapping. No thoughts, head empty. So many birthdays today—so HAPPY BIRTHDAY to my fellow Virgo gang all around the world!! LET’S GO HEAL THE WORLD, MAKE IT A BETTER PLACE FOR YOU AND FOR ME AND THE ENTIRE HUMAN RACE~


peace lof en gawl

Is being friendless really what makes you feel calm?

Jumat, 01 Agustus 2025

Sebuah pagi di Agustus yang menimbulkan banyak pertanyaan. Sebuah konten muncul di halaman sosial media karena ada mutualku yang mempublikasi ulang. Isi kontennya soal perempuan yang gak punya banyak teman itu bisa baca 'energi' dan segudang kelebihan lainnya. Aku jadi kayak WHAT?!


Mulai dari spiritualitasnya tinggi jadi bisa 'baca' orang, kecenderungan menghindari trauma berulang atas pengkhianatan teman, sikap yang selalu waspada, sampai disebutkan di situ kalau they're (aku sebut they karena mengatasnamakan a group of female) adalah orang yang tenang.


Isi kolom komentarnya tentu saja pro kontra. Sebagaian tidak setuju karena isinya terlalu memvalidasi orang yang avoidant, sebagian lainnya tervalidasi dan sangat setuju dengan konten ini. Aku sendiri lumayan heran ternyata ada yaa orang yang butuh di-validasi tentang ini. Sebagai orang yang avoidant, aku justru sangat gak suka dengan pembahasannya yang gak ada arah selain cuma mau bikin para perempuan jadi orang yang demen mendem. 


Aku sadar, punya teman yang satu pemikiran is a blessing. Tapi bukan berarti gak bisa dicari dan dipertahankan. Instead of ngasih makan ego pake narasi 'bisa mencium energi tanpa orang buka mulut' karena 'katanya' spiritualitasnya lebih tajam, menurutku lebih baik orang-orang yang sering dikecewakan sama teman itu bisa sembuh dari rasa sakitnya dulu.


They need to figure out what kind of heartbreak affects them most, so they can build healthy friendship boundaries instead of avoiding people altogether. Some people are trash, I agree. They can hurt us when we really believe in them. And sometimes, good people get hurt the most, because they’re not used to standing up for themselves. 


Intinya, I really hate the way that's account narration : gak punya teman itu gak seburuk itu. 


Girl, if you don't have a friend tuh cuma ada dua kemungkinan: satu, mereka bermasalah dan kamu menghindari semua permasalahan. atau yang kedua, kamu yang bermasalah dan semua orang menghindarimu. 


Buat poin nomer dua (aku bahas duluan sebelum dihujat netijen), coba tanya dirimu sendiri seberapa jujur kamu dipertemanan yang pernah terjadi itu. Apakah kalau kamu senang, kamu kasih tau teman-temanmu? kalau kamu lagi gak suka sama sikap mereka, apakah kamu kasih tau temanmu saat kejadiannya atau tunggu nanti pas semua kekesalanmu udah menggulung? Apakah kamu pernah bener-bener tanya dari hati ke hati sama temanmu, tiap ada permasalahan yang bikin hatimu gak enak?


DUH jadi inget webtoon girl's world episode Sunji. Di webtoon itu, Sunji punya temen dari TK. Dia sekolah bareng sampe SMP, kemana-mana ngekor si temennya itu dan dengerin curhatan ataupun nolongin apa aja. Temennya ini orang berada, sedangkan Sunji miskin, jadi Sunji ngerasa punya 1 temen aja cukup kok. Tapi beda sama temennya ini, dia temenin Sunji karena Sunji cantik dan genk-nya bisa narik perhatian di sekolah. Suatu hari, temennya ini malah fitnah dan bikin Sunji dijauhin sama anak angkatannya. Kebayang gak jadi Sunji, udah mah temen cuma satu, orang yang dia percayain jadi temen malah ngefitnah. Tapi Sunji gak mendem doang. Dia beneran ngajak ngomong one on one sama temennya itu. Dia kasih tau kalau dia sedih, pertemanannya udah gak bisa ketolong lagi jadi jangan minta tolong apapun ke Sunji. Terus pas SMA, dia tetep punya teman baru. Bahkan dia jadi punya batasan, gimana sih caranya berteman secara sehat.


Bisa liat bedanya gak?


Sunji dikecewain temennya, tapi dia gak lantas meng-avoid orang yang mau temenan sama dia. Awalnya pun Sunji avoid bantuan oranglain karena kata Sunji "aku udah terbiasa sendirian. Untuk sementara memang berat tapi seiring berjalannya waktu pasti akan baik-baik saja" tapi pas ada orang yang approach Sunji duluan, dia gak yang menarik diri. 

Jujur bagus banget buat dibaca buat kalian wahai teman-teman perempuanku yang avoidant. Ini komik kasih pembelajaran hidup.


Karena dia mau JUJUR sama dirinya sendiri, dan mau JUJUR kasih tau orang yang dia mau percayain lagi.


Jadi kalo mengutip quotesnya Sunji: 

"Seseorang terlihat dari bagaimana dia menjalani hidup. Aku gak mau mencurigai temanku yang berharga. Gak ada alasan untuk itu. Karena itulah, kuharap sekarang kamu juga menghentikan hal ini (permasalahan mereka) dan bisa merasa tenang. Bukankah berat terus-terusan memandangnya (permasalahan pertemanan) dengan cara itu?"


In islamic term, Sunji mengikhlaskan qodo dan qadar yang terjadi. 


Terus buat poin nomer 1,  ada sebuah dialog Sunji yang aku kayak wahh banget. Kalimatnya ini:

Pikirkanlah baik-baik, apa kamu memang benar-benar membutuhkan teman, atau membutuhkan orang yang mau mendengarkan cerita kesusahanmu. 

Kadang, orang lain emang bermasalah dan kamu gak tau cara 'cabut' dari permasalah itu selain ngikut arus demi menghindari semua permasalahan yang lebih besar. Jadinya kemungkinan kamu mendem dan sakit hati sendiri lebih besar. Tangki perasaan cinta kamu pun bisa habis dan merasa lelah.


Kalau udah sampe mentok dan bikin tangki perasaanmu kosong, berarti emang ada yang salah dari pertemanan itu. Buatku, punya teman berarti ada hal yang bisa kubagikan dan bisa kuterima dari mereka. It's not about money and fame, tapi a story. 


Cerita itu gak harus yang deep talk melulu atau rahasia elit global. Tapi harus berimbang, kamu cerita, dia juga cerita. Kalau minta solusi, ya dikasih tapi kalau gak diminta jangan jadi orang sotoy yang menggurui. Cerita yang di share gak dijadiin bahan olok-olokan ke temen lain dan saling respect sama keputusan temanmu yang mau ceritain itu. Say thank you tiap curhat juga boleh banget loh, apresiasi ke temen udah mau berbagi beban hidup. 


Makanya aku bilang sebelumnya, kamu udah jujur belum sama dirimu sendiri dan temenmu. Jangan sampe jadi punya mental korban dan cari validasi buat membenarkan perbuatanmu yang belum tentu udah saling kasih benefit di pertemanan.


Kalau udah effort segala macem dipertemanan lalu dikecewakan, gimana? Gak enak tau, mau punya temen lagi pun udah capek.


Nah, yaudah itu tulis 10 hal yang bikin kamu capek punya hubungan pertemanan. Ada gak 10 hal yang bikin kamu capek? Aku yakin paling cuma 2-3 hal aja, mentok-mentok di 5 hal, sisanya bingung apa lagi yaa yang bikin gak mau punya temen. Terus kamu akan sadar, ternyata selama ini kamu cuma membelenggu diri sendiri, bikin dirimu jadi kayak ada di sebuah kepompong buat self-defense. Instead of keluar jadi kupu-kupu, kamu malah jadi ulat yang lumpuh didalam sana sambil bawa beban sayap-sayap indahmu itu. BERAT SHAYYYY~


Eits jangan pikir itu udah selesai. Kamu wajiib bikin 10 hal yang kamu mau banget punya di sebuah pertemanan. Lingkungannya seperti apa, karakter orangnya yang jadi temenmu nanti gimana, apa yang kamu rasakan, kalau ada konflik kamu mau penyelesaiannya seperti apa, dan lain-lain. Pasti bisa nulis bahkan lebih dari 10. Terus kamu jadi sadar, kalau dirimu itu udah punya 10 kriteria ini di diri sendiri belum, sudah punya frekuensi yang sama kah dengan hal yang kamu inginkan.


Barulah di poin ini, aku akan bilang jadi perempuan yang tenang itu memang butuh waktu. Perjalanan mencapainya tidak mudah. Perempuan yang tenang memang bukan orangnya punya milyaran teman, tapi ia sudah pasti punya banyak teman yang membantunya meraih titik tentram itu. Bukan perempuan yang menghindari pertemanan dan melabeli dirinya sebagai strong woman.


I genuinely hope my female friends get to experience this kind of calm, having 1 to 5 close friends they can really talk to and share life with. Pliss girlss you deserve kok punya temen deket!

Being an independent woman doesn’t mean you can’t lean on others.

Friendlessness isn’t peaceful, it’s a draining phase. It’s not silence, it’s loneliness you’ve grown used to.

So don’t be surprised if you keep attracting people with the same emotional numbness.
Change your vibe first. Heal. Stop seeking validation from strangers on social media. Try seeking help from a professional, or join a hobby-based community instead.

You deserve real connection, not just attention.





Segitu dulu overthinkingan di August 1st. Happy birthday to whoever you are today. Cheers!

Will it feel less scary if I stop being so attached?

Rabu, 23 Juli 2025

Perjalanan jauh ternyata gak serta merta bikin orang jadi berhenti ketergantungan.


Entah untuk alasan apa lagi agenda kabur kali ini, ia sudah berhenti berpikir dan mencari alasan. Membiarkan apapun yang menurut-Nya terbaik akan ia jalani. Toh ketika ia benar-benar pergi, berarti semua hal-nya telah dipersiapkan-Nya. Tanpa perlu khawatir.


Namun segala surgawi yang telah dilalui saat menjalani perjalanan itu, ada banyak sekali rasa haru dan entah emosi apalagi yang ia rasakan. Pencernaan pikiran miliknya sering terganggu. Mungkin asupan nutrisi kepalanya masih pakai vitamin murahan. Karena di akhir-akhir menjelang pulang dari perjalanan panjang, mendadak banyak sekali air mata yang muncul acak begitu ia baca satu dua kata saja.


Ia memang senang membaca apapun. Cuitan twitter, kabar berita, novel, komik, buku, dan lainnya. Sayangnya ia masih tidak bisa membaca bagaimana perasaannya tiap hari. Mungkin, ada kalanya ia tahu dan merasakan apa yang terjadi hari itu. Tapi lebih sering lagi ia terjebak.


For a lost soul, driving long distances from place to place is a way to make sense of whatever happens in their life. Maybe it's called re-life.


Masalahnya, ia sendiri tidak menyangka bepergian membawa rasa ketergantungan lain yang selama ini ia tak ingin rasakan lagi: kehilangan. Bagaimana sebuah perjalanan yang hanya hitungan jam bisa menempel puluhan tahun di kepalamu, dan ketidakrelaan untuk pergi meninggalkan tempat atau sesuatu didalamnya jadi begitu menyesakkan hati?


Ia tidak pernah siap dengan kehilangan, meskipun sering mengalaminya secara mendadak di waktu yang acak.


Lantas ia bertanya-tanya, bagaimana caranya agar berhenti dari ketidaknyamanan itu? Haruskah ia berhenti bepergian seperti dirinya yang dulu, sengaja menjebak diri didalam dinding yang menyedihkan itu lagi? 


Will it feel less scary if I stop being so attached?


Agenda kabur-kaburan ini rasanya seperti lingkaran setan yang gak pernah usai. She bets heaven knows how hard she's trying to understand whatever happens in her life. Bukankah perjalanan ini justru semakin menambah panjang daftar hal-hal yang membuat jiwanya bertaut dengan ketergantungan?


Ia sendiri sadar kalau.. mungkin.. ada yang salah dari caranya mencerna scene by scene yang diberikan-Nya. Ketakutan tidak akan merasakan hal yang sama, ketakutan tidak lagi merasakan hal yang pernah terjadi, ketakutan semua yang pernah dicapai akan hilang begitu saja, dan ketakutan lainnya yang tidak bisa ia tuliskan.


Melepaskan memang butuh energi dan keberanian yang sangat besar. Terlalu besar sampai rasanya takut tak sanggup dilakukan. Menjadi utuh pun perlu energi besar bukan hanya dari diri sendiri, ia butuh tempat dengan orang yang membantunya. Ia hanya lupa meminta agar tak sendirian, karena terlalu sering merasa hidup hulu ke hilir seorang diri.


Mungkin ini saatnya ia mengganti lensa dari kamera hidupnya. Supaya tidak ada lagi pertanyaan sama; 

Will it feel less scary if I stop being so attached? Or will the emptiness hit harder once I let go?

I learn to be a spender..

Selasa, 15 Juli 2025

Resigning is a big thing. So is being a spender!


As someone who’s always been saving everything — money, food, friendships, love, family (I treasure them so much), punya keputusan 'ngaco' buat hidup di tempat baru selama 30 hari sama orang yang belum benar-benar dikenali juga adalah keputusan besar. BESAR SEKALI.


Ibuku sepertinya bingung tapi beliau menghormati keputusan anak tanpa banyak tanya seperti biasa (love u bu). Ayah pun tidak banyak tanya seperti biasa. Setelah 10 tahun pergi di kota orang tanpa bawa masalah. Mungkin 'cuma' 30 hari perjalananku kali ini pun tidak akan berasa lama bagi mereka. Yahh, aku hanya pergi ke kota yang jaraknya hanya 4 jam naik kereta api jarak jauh kok! Deket aja.


Hal pertama yang aku lakukan adalah berkabar ke teman-teman dekatku dulu. Kenapa? Soalnya biar ada temen aja sih. Aku kurang suka kalau terlalu solo trip tuh sepi banget gak bisa yapping hahaha. Obrolannya selalu bermula dengan: "Mau sebulan di kota X nih, ada yang mau join gak?" karena pikirku sharing kamar will save cost ya kan? Sayangnya mereka gak dalam fase bisa bekerja remote jadi gak ada yang bisa. Meskipun gitu, ada sisi diriku yang mau banget loh ngebolang sebulan di kota orang lain. Entah sama siapa, dan entah apa pula alasannya. 


Perjalanan aneh yang aku impikan ini dalam rangka ketemu eaJ di PJF dan main sama ex-team di kota yang sama. Kupikir supaya hemat biaya perjalanan, yaa sudah nginep lah satu bulan aja disana, jadi kan gak dua kali PP ke kota yang sama. DEMI HEMAT JADI AKU NGEKOS. Wow sebuah logika yang aneh bukan?!


Logika aneh ini bisa diperdebatkan, harga ngekos dan pp tiket kereta tuh sama btw (exclude biaya makan dan main kemana-mana ya). Cuma aku merasa budget hidup di kota tersebut sambil mencari pengalaman hidup di kota lain ini masih masuk ke kantong entertain-ku kok. 


Again, as a saver-type person, I calculate everything so much that people often think my MBTI is “J” instead of “P” — just because I seem so structured and overthink everything. But honestly, it’s just a habit from living that hustle life hahaha.


Aku sendiri udah mikir berulang kali sebelum akhirnya menyerahkan diri kepada Yang Maha Pencipta, biar yang terjadi ya terjadilah... 


Jujur, mungkin akan ada hari dimana aku menyesali keputusan keuangan yang dibuat berdasarkan logika aneh ini. Tapi sebagai orang yang behaviour-nya selalu hemat, aku penasaran mencicipi hidup without thingking too much when spending money i earn. Kebetulan kerjaanku pun bisa dibawa remote, I don't know in the future aku mau dan bisa ngelakuin kerjaan freelancer lagi atau gak, kesempatan ini mungkin cuma ada satu kali di hidup. Yahh.. mungkin itu cuma me and my defensive mode juga ya, alias lagi alasan. 


Dengan logika aneh yang kubawa itu, bertemulah aku dengan orang yang tipenya spender. Kebetulan? Kayaknya sih enggak ya!


Aku rasa, Allah emang nuntun aku buat belajar beneran jadi orang spender deh. Mungkin ada yang salah dari caraku 'berhemat' selama ini jadi aku disuruh sekamar sama temanku ini. Mulai dari pemilihan tipe kamar kosan, the foods, tempat bermain dan lainnya 180 derajat dari bayanganku. It's never bad, her taste of life tuh make sense. Sampe aku banyak mikir "apa gue terlalu hidup survival mode mulu ya" HAHAHA.


Memang jadinya budget yang aku perkirakan jadi bengkak, ini lah cost yang perlu dikeluarkan buat hidup 'layak' bukan cuma 'bertahan hidup' aja. Jelas, awalnya gak nyaman. Lumayan loh stress calories yang aku dapet pas lihat-lihat rate harga kosan yang sesuai 'standar hidup orang spender' tuh aku jadi kayak dapet alarm berkali-kali. Setelah pertimbangan, akhirnya kita berdua ada di angka yang cukup oke, tidak extreme buat saver dan tidak dibawah expectation buat spender.


Itu baru soal kamar ya, masih ada banyak sekali yang dipelajari selama hampir sebulan (baru setengah perjalanan, nanti di update next month after this journey ends yakk wkwk). Ternyata jadi spender itu emang beneran harus dilatih dan harus sama orang yang biasa spending, karena kalo gak yaa akan selamanya hemat mulu.


Aku gak bilang kalau hemat itu salah, atau jadi spender itu bagus. Semuanya oke asal sesuai porsi. Masalahnya banyak orang yang terlalu boros (spender mentok) sampe gak bisa nabung. Ada juga yang macam diriku ini nabung mulu sampe gak rela keluarin duit, kan gak bagus juga itu jadi pelit....


Well, sebagaimana arah angin bisa berubah, begitu pula perjalanan. Teman ex-team ku malah gak jadi main :D aku udah terlanjur disini setengah bulan, jadi mari kita nikmati tempat-tempat baru di kota yang orang-orangnya terlalu slow living.......


See you di next post!

Major life changes

Rabu, 04 Juni 2025

Life after resign, and you realize rest is a productive.

 

Kayaknya udah banyak banget yang tau kalau aku tuh orangnya gak bisa diem. Mesti sibuk. Sleep is for the weak, ceunah. Tapi iri sama ibu yang bisa gampang tidur. Hahaha. The winner takes it all trend maybe. 


That’s why, even before graduating with my bachelor’s degree in 2019, I already had a job as a writer for a trend website (kalo tau Yukepodotcom). That same year, I was also juggling a double job as a graphic designer for a start-up. Orang gila? Belum ke gong-nya. Di tahun yang sama, aku nyusun skripsi and went through a breakup after a two-year relationship! Hidup gak sayang nyawa karena separuh jiwa yang pergi, kalau kata orang gila (gue lah orang gilanya).


I think, because I survive from so many tragedies, jadinya tuh aku merasa masalah yang datang di tahun tahun berikutnya terasa kecil dan sepele. Pancatera said : we are living in hustle environment, jadinya kalau mau istirahat kayak ada perasaan bersalah. Aku setuju, di tahun 2021 pas covid hit us with sadness and sorrow (so many people I know died) aku pun ngerasa ini tuh ada yang salah deh. Tapi again, I need distract my self with busy things. SO I APPLY FOR MENTOR WRITING. LMAO. I do still working walaupun udah gak di 2 tempat, makanya jadi mentor nulis :) 


It only happen for 3 months mentoring, and I resign from the designer role too. In 2021, I take the risk for loving someone twice. But they're all gone in my sight, and you know the rest of story. YES I DO APPLY WORK AGAIN AND MAGISTER.


Yah, kalau aku jelasin day per day nya of course itu susah banget kalau gak ada bantuan Tuhan. How can I survive ngerjain tugas matkul, kelas sampe jam 10 malem, kerjaan yang seabrek dengan deadline yang so tight. Semaput. Aku gak minta validasi orang lain, tapi pasti orang-orang di inner circle-ku termasuk ayah dan ibu jadi cuma bisa berdoa aja liat aku yang half sane half insane :)


2021-2023 such as a rollercoaster. Aku yakin kita semua orang ngerasain achieve something or losing something. We are all grow. Tahun itu tuh kalau ada di novel pasti cuma ditulis : dua tahun kemudian. Alias the same routine, but the dreams you hold malah makin membesar dan meninggalkan ruang hampa meskipun kamu udah berhasil dapetin whatever yang ada di bucket list.


Hal tersusah buatku bukan learning and adapt (of course ini juga susah I dont judge other ya), tapi unlearn something. Selama fase 'sekolah lagi' itu aku ngerasa time management tuh super penting, dan lucu karena aku menempatkan sekolah ke top 3 aja. top 2 adalah kerja, the 1st one is I pray to the God minta kemudahan. Well it's another story tapi intinya karena menomersatukan Yang Maha Kuasa, I see something kayak ada yang unlock pop up notif in front of my eyes.


I see my self getting what i need lebih banyak daripada yang what i want. Tentunya ada masa-masa di mana aku berasa salah tempat atau salah sasaran dan kesedihan lainnya. Tapi disitu, mengantarkanku sama sebuah keberanian aneh. Melepas.


Melepas tuh not only for people loh. For memories, for somethings longing lah intinya. Termasuk kesibukan. Aku yang selama ini gak pernah stop working, and everyone tell me to SLEEP since high school tuh sounds funny and sad at the same point. Maksudnyee berarti gua teh kagak ada perubahan dong karena they remember me sebagai orang yang sibuk banget sampe jarang tidur. 


Terus punya keberanian buat melepas tuh is a BIG (in capslock) big deals (I write twice in caps and low caps for 'big') for me. Karena artinya aku harus buka, gali, mengenali, meLIHAT semua hal yang aku tutupi dari diriku sendiri. IT SO SCARY. Bayangin kamu sengaja nutupin itu buat hidup tenang, tapi ternyata buat hidup tenang kamu harus membuka dulu apa yang lagi di tutup itu. Wow, seram.


Aku percaya apapun yang terjadi itu hal terbaik buatku. Jadi setiap ada problem, itu adalah sebuah 'hadiah' dari Yang Maha Kuasa dan cuma aku yang bisa solve, pun sebelum masalah itu aku sadari, Tuhan udah install an armor for the fight. Tapi buat fight the war called melepaskan, jujur aja aku ngerasa gak berdaya. Apapun yang aku punya tuh rasanya gak cukup. Minta ampun sama Tuhan karena ternyata aku tuh sekecil ini, gak bisa apapun kalau gak ditunjukin Tuhan.


So yeah, farewell buat semua hal yang aku gak bisa tuliskan, yang cuma terasa dan terjadi padaku, yang membentuk karakter keras kepalaku buat achieve so many first time as an adult, dan yang aku tahan karena butuh alasan.


Jadi inget lirik lagu Star - Colde 

Just like a star, all the memories got stuck, I'm tired of the past, I want to break away


Banyak kerja dan kegiatan emang produktif, punya achievement juga produktif. Aku cuma perlu belajar kalau berhenti, melepas, dan memulai pun bagian dari produktif. Kasih jeda tuh produktif kok. Toh bintang di langit yang baru keliatan di mata kita hari ini, aslinya udah ada jutaan tahun lalu. Mungkin aslinya itu bintang-bintang yang kita lihat udah gak gak ada lagi di tempatnya malah. 


Detach dari sesuatu yang udah lama ada sama kita juga gak apa.


Pas banget sama kalimat Jae di opening album terakhirnya bareng Day6:

Every ending is a new beginning.


Episode melepaskan sudah selesai. Akan ada episode lain yang entah apa. Semuanya akan datang berurutan sesuai kehendak-Nya. Tentu semua yang menyenangkan sepaket dengan kesedihan juga. Jadi apapun yang terjadi, terjadilah!

To People Who Loves You, D Words Is An Insult

Senin, 12 Mei 2025

Baru terpikir sore kemarin. Saat notifikasi menumpuk beradu menjadi paling atas. Mereka ingin mendapatkan perhatianku dan membukanya, Lucu karena yang kulakukan selalu adalah menggeser kiri semua notifikasi dan membuka sendiri aplikasi yang kumau. Ada sebuah pesan. Ah, bukan. Ada begitu banyak pesan. Ku baca satu-satu dari atas ke bawah. 


Tersadar bahwa orang asing pun bisa peduli pada orang lain -pada kita.


Kepedulian adalah salah satu pintu dari kasih sayang.


Kasih sayang terdengar asing ditelingamu. Sebab dengan begitu banyak kepahitan yang ditelan tanpa tegukan air tiap harinya, membuatmu jadi mati rasa. Mereka bilang waktu bisa menyembuhkan luka. Tapi kamu tidak setuju dengan itu. Kamu merasakan sendiri bagaimana waktu, hanya memberi jeda pada setiap kesakitan yang datang. Ada kalanya meski sudah berlalu tujuh atau sepuluh tahun, rasa sedih atau takutmu tiba-tiba datang, menyeruak masuk memenuhi sela-sela kalbu yang susah payah diperbaiki. Menyerang hingga ke inti di siang hari yang tenang. Kamu yang tanpa persiapan tentu terlalu kaget hingga cuma bisa menangis dibawah langit yang cerah.


Mungkin kamu ingin berhenti bernafas hari itu. Terlalu banyak patah yang tidak bisa kamu tampung rasa sakitnya. Air mata dan sakit kepala sudah saling beradu membuat isi kepalamu penuh dan melantunkan sebuah requiem. Lucunya, meski kamu ingin melepas kesakitan itu, mereka mendekapmu erat seolah tidak rela kehilanganmu dan menjadi benalu. Dan begitulah kamu hidup berdampingan dengan rasa sakit setiap harinya.


Untuk waktu yang lama, kamu bertemu wajah baru. Wajah yang peduli, meski mereka bukan dari ring satu pertemananmu. Wajah-wajah yang sungguhan mendorongmu keluar dari kolam air matamu sendiri. Dengan ucapan-ucapan sederhana, mereka menyambutmu. Kembali ke posisi nol. Posisi dimana tanpa membawa rasa sakit pun bukan posisi dimana kamu sudah ada di posisi terbaik. Nol ada netral. Kesedihanmu ada di posisi minus. Kebahagiaanmu ada di posisi plus. 


Rasa saling menghargai biasanya jadi tuas terakhir pertahanan. Menghargai, atau kalau kita biasa sebut, gak enakan. Perasaan itu, yang harus kamu genggam hingga titik akhir. Saat duka dan kesedihan menjadi benteng yang menghancurkanmu, ingatlah perasaan gak enakan itu. 


Karena kamu yang hidup, berarti menghargai mereka yang peduli. 

Kamu yang hidup, artinya menolong dirimu sendiri untuk berubah. 


Memang butuh waktu. Akan ada hari dimana kamu bisa tiba-tiba menangis karena ingat sakitnya. Tapi akan lebih banyak waktu dimana kamu bisa tiba-tiba tertawa hanya karena celetukan asal bunyi dari wajah-wajah yang peduli padamu.


Kamu yang hidup, menghargai pemberian Tuhan. 

Kamu yang hidup, adalah keberanian.


Tak usah risau soal kesuksesan. Tiap orang punya sajadah masing-masing untuk menghadap kiblat yang sama. Semua orang punya waktu bagi yang bernafas.


Tapi bagi yang tak bernyawa, waktu itu berhenti. Sajadah tergulung meski masih sama menghadap kiblat.


Kamu yang hidup, ternyata banyak yang peduli.

Akan ada kesedihan pada wajah-wajah itu, kalau masih memilih pergi.

Mencari Letak Salah di Sudut Buta

Kamis, 20 Maret 2025

Sudah pukul sepuluh lagi, ini sudah masuk ke sepuluh terakhir pula di bulan ramadhan. Sejak tahun lalu ataupun kini, sama-sama rasa takut yang mendominasi.


Masih tetap membahas soal "aku" tapi kali ini penjaranya adalah negara.


Entah mungkin aku yang fakir ilmu dan kurang membaca. Atau justru mereka yang membuat buta dan menulikan telinga. 


Beda pendapat saja seolah memerangi warga, sudah banyak nyawa yang berpulang hanya karena bersuara. Kritik dianggap menentang, protes dianggap menantang. Lantas darimana datangnya perbaikan?


Tuhan tidak tidur, orang soleh sudah berdoa, orang berdosa pun ikut meminta pertolongan. Jika dengan ratapan orang-orang yang kesulitan ini justru membuat sebagian orang merasa kaya dan berkuasa, mungkin hanya tunggu waktu sampai tergulung dan kuasa Tuhan.


Matilah engkau orang-orang tamak di dasar neraka.




20.03.2025. Setelah RUU disahkan dengan kecepatan kilat.

From Paper to Notion

Minggu, 16 Maret 2025

Dianugerahi otak tapi tidak digunakan berpikir adalah salah satu kesalahan


Benar, menulis dengan tinta diatas kertas itu lebih ada feel dan terasa satset karena bisa offline tapi dari 2019-2023 setelah rajin mencatat to do list pake pulpen di kertas binder, kerasa baget yaa banyak 'nyampah' walaupun pas dibaca lagi sih merasa ada bukti tiap hari di tahun-tahun itu sesibuk apa.

Iya aku design dan printout sendiri to do list ini di kertas binder hahaha. Kayak gini:


Pada akhirnya 2024 memutuskan buat gak cetak ulang to do list ini, mau dibuang sayang, di simpen terus numpuk di kamar! 

Tapi seperti yg ada di kalimat pembuka blog ini, aku tuh awal tahun 2024 gak cari alternatif lain selain ngasal nyoret di note laptop atau sembarang kertas. Ujungnya sampe Q2 2024 aku 99,8% stres, bikin keputusan-keputusan impulsif, doom scrolling 3 jam tanpa henti hanya karena aku ga punya goals yg jelas setiap harinya. Istigfar 33x juga gak mempan!

Lucunya, kemalasan 2024 ini sebenernya berasa pola gitu loh, kayak pengulangan di tahun 2016, pas masih kuliah dulu. Gak ada goals selain 'jalanin hidup aja' dan sama-sama terselamatkan sama hal yang lagi dijalanin. Dulu di 2016 lagi kuliah S1, kalau 2024 lagi kerja. Udah gitu aja gak ada hal-hal yang bombastis dan menggairahkan.

Kalau di tahun 2023 sih kejar tayang proposal tesis, submit jurnal dan presentasi sidang sambil ngurus klien sampai kena gejala tipes 8 hari pas bulan puasa ya hahaha. Intinya, selama ini tuh orientasinya selalu ke "luar" yang penting deadline di to do list kelar, aman.


Ternyata life after pilpres tuh jadi milestone buat hidup orientasinya ke "dalam" buatku. Ini momentum lebih parah daripada putus sama gebetan pas lagi sayang-sayangnya. Aku galau-nya tuh bercabang banget setelah pilpres. Ketakutan ini malah divalidasi sama kebijakan-kebijakan yang tidak bijak dari penguasa. Mau marah atau sedih tapi udah terjadi. Karena brainrot dan jadi sering banget pegang hape, akhirnya aku putusin buat install notion, waktu itu mikirnya biar gampang bisa akses di hp dan website.

Terus yaudah aku awalnya bikin buat simpen info-info beasiswa, bahan bacaanku, film yang udah aku tonton, sampe bikin to do list juga, kayak gini:


Awalnya agak sulit ya ini aplikasi rumit banget pikirku. Biasanya kalau nulis kata-kata di google keep, simple. Tapi pas cobain template-template notion, aku baru kayak WooOOooWWwwww bisa gini ya, wooOOwowowWw bisa gitu ya. Mengezutkan karena bisa bikin list bacaanku rapi, even masukin link, bisa masukin gambar, bisa ini dan itu kayak google doc tapi kayak blog! 

Sebenernya to do list 2024 itu aku mulai coba susun kayak yang biasa aku lakuin di kertas pas menjelang akhir 2024, sebelumnya masih sering nulis di kertas. Eh ternyata enakan online, karena almost separuh hidupku membuka laptop dan akses internet + malah lebih cepet dan gak pegel loh!

Tahun 2025 ini, aku mulai coba lebih detail dengan bikin goals-goals bulanan via notion!


Seruuu walaupun masih agak norak sama fitur-fiturnya (maklum newbie) tapi seneng bisa pake karena lebih hemat uang (gak perlu print kertas) dan cakep bisa aku warnain suka-suka (pake pink). Sejauh ini belum nemu minusnya sih. 

Kapan-kapan aku share lagi soal notion ya! Siapa tau ada yang sama bingung-nya pake notion, jadi bisa ku share ilmuku yang ga seberapa ini ^____^






Barakallahu fiikum, semoga selalu istiqomah dalam kebaikan ♥️

Auf Wiedersehen!

Would You Love Me In My Lowest?

Rabu, 26 Februari 2025

Tengah malam, ditengah kejaran deadline dan desiran darah di kepala karena menahan sakit yang suka tiba-tiba ada, tersadar kalau ini adalah ramadhan terakhir setelah tiga kali berturut kerja di area China Town. Mungkin di awal bulan nanti, akan ada pengumuman, atau tengah-tengah, tapi tidak yakin di akhir bulan Maret.


Ada yang menyeruak didalam diri. Mungkin itu senang setelah sekian lama menunggu, mungkin juga itu perasaan lega akhirnya keberanian yang malu-malu itu terkumpul. Tapi, mungkin, itu juga perasaan sedih. 


Melepaskan sesuatu gak pernah ada di kamus hidupku. 


Karena sebelum sempat aku melepas, ia atau mereka memilih untuk melepasku terlebih dulu. Jadi ini adalah momen besar, untuk pertama kalinya dalam hidup untuk melepas. Sesuatu yang awalnya kupercayai bahwa mercusuar itu bisa terang, sesuatu yang awalnya kupercaya bisa mendorongku menemukan sesuatu. Dan telah sampailah aku di titik terang itu.


Aku belajar untuk berhenti jadi orang naif. Di tempat yang suara-suara panggilan-Nya terdengar sayup, justru disitulah penjagaan-Nya menjadi sangat tinggi. Suara toa-nya memang hampir tak terdengar, tapi justru jadi alarm paling keras buat seseorang yang naif tersadar, dunia ini perlu diperjuangkan.


Meski banyak hal yang aku dapat, akhir-akhir ini aku menemukan diriku ada di titik penuh keluhan. Ada saja cuilan kata yang jadi bensin atas api-api masalah. Kurang ini lah, kurang itu lah. Semua hal jadi banyak kurangnya. Padahal jika melihat aku di dua tahun lalu, justru menjadi pembela nomor satu sang mercusuar.


Sadar bahwa kurangku banyak dan gap kebutuhannya makin jauh. Aku yang tak mampu kejar, meski mengusahakan yang paling terbaik versiku, tampaknya lebih terlihat kekuranganku di mata sang mercusuar. Dan sebagai pengembara di lautan, aku kelelahan. Pun dengan mercusuar-nya, ia lelah memandu dengan terangnya.


Would you love me in my lowest muncul ketika sedih itu hadir. Ini bukan hal yang lazim karena biasanya berbagai perasaan itu datang tiba-tiba dan tidak pernah satu-satu. Sampai bingung apa yang sedang kurasakan itu. Tapi kali ini jelas sekali, hanya ada sedih.


Kalau dijabarkan alasan sedihnya, sudah pasti top of mind dari kepalaku adalah kegagalan memenuhi ekspektasi orang-orang yang sudah memberiku kepercayaan. Lalu disusul dengan pemikiran bahwa keuanganku mungkin akan berguncang di usia yang jauh dari kata freshgrad. Dan disusul lagi dengan pemikiran lainnya.


Aku juga ingin bertahan. Aku sudah tidak ingin jadi pengembara.


Tapi rupanya jangkar itu sudah menggantung diatas kapal, dan ombak mulai menggiring ke arah laut lepas lagi. Mercusuar pun sudah berganti lampu dan warna catnya. It's getting real, pengembaraanku baru akan dimulai lagi. 


Episode baru akan dimulai dengan pertanyaan yang menggelitik.


Would you love me in my lowest?

Because if you do, honestly I feel burden yet feel grateful

Because if you don't, honestly I can understand yet feel so sorrow

Because if you don't, I probably think its fine for born, life and die alone.


So If you love me in my lowest, tell me how and show me.

Bintang yang paling terang ialah yang kesepian

Jumat, 21 Februari 2025

Saat lampu sorotnya dimatikan, sorak-sorai yang hanya bertahan sepanjang durasi

Ia lebih banyak bercengkrama dalam gelap studio dan rasa sepi

Jatuh cinta berulang yang menyedihkan

Patah hati berulang yang jadi amarah


Semua bersorak memanggil namanya,

Si bintang yang paling terang,

yang karena suaranya-lah banyak nyawa yang bertahan hidup

yang karena suaranya-lah kesepian mereka menjadi riuh.


Semua bersorak memanggil namanya,

kecuali orang yang paling ia inginkan di dunia ini.

Si bintang yang paling terang itu juga tidak ingin sendiri.

Satu atau dua tidak masalah asalkan ada legasi


Namun saat sang bintang itu berkaca,

Ragu akan diri dan waktu yang ia miliki jadi kisah sedih berulang

Meminta seseorang bertahan ternyata lebih sulit dari awal karirnya

Kehilangan adalah harga yang dibayar untuk berdiri di panggung besar ini.


Kesepian dan cahaya terangnya akan selalu membersamai

Persis tubuh dan bayangannya di siang hari

Sang bintang tak bisa protes lagi

Ini pilihannya sendiri


Dearly Deadly

Senin, 10 Februari 2025

Ia sentuh yang sengaja dipendam jauh,

Terketuk hati yang sedari awal tidak utuh,

Monster itu ternyata tangguh,

menunggu sang pemilik terjatuh.


Pandai ia bersembunyi puluhan tahun lamanya,

'tidak apa itu hanya sentuhan kecil pada paha'

'tidak ada luka, itu hanya usapan saja'

Tak ada yang bisa dibahas lagi, berharap untuk terpendam selamanya


Tanpa tahu kalau segala yang tertahan bisa bersemayam

menjadi monster pembuat kapal harapan karam,

menggerakkannya untuk tunduk dan terlihat buram,

dan muncul secara acak dari balik kata di buku-buku kusam.


Merantai, terpasung oleh gelap masa lalu

Ia ingin memecahnya, membantu agar bisa maju

Atau sekadar membuka jendela bertirai biru

Lalu melihat cahaya matahari menembus netraku.


Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk selesai bilang tidak siap?

Tidak siap pun kini peluit panjang sudah ditiup untuk bersiap

Siapa ataupun apa di depan nantinya untuk didekap

Semoga Kasih-Nya selalu hadir, mudah untuk kutangkap.



-S2, 10.02.25 after the wounds open-

Everyone is an artist, so do I

Sabtu, 25 Januari 2025
Have you ever think everyone is so cool, fancy and talented, but when you see yourself it's just so so human living who talentless? 

Well, that's me too! Don't worry you're not alone thinking about that. 

When I know someone writing what they thought and post it on socmed, it got viral and they become 'influencer' or when my close friend achieving the top of career and love live, didn't lie somehow I look into myself and starting to see me as a nobody.

This nobody who never try a things except what people told to her.

A little courage bring me to think otherwise. 

If everyone finally getting what they want, so.. what if I get that too?

I know there's a lot of talented girl, with multiple skill and expert too. But hey, I haven't show my best version of me, right?

And I hope,

Really hope,

a litte courage help yourself to get what you want.


When everyone is an artist, so do I.

The First Step Is Always the Hardest, At Least For Me

Jumat, 10 Januari 2025

Everyone on instagram posting this: 

'New year, New me(ntal issue)'

and it's seems very commons to unlock new year with the new fear. Well, don't want to bring the gov news here (but of course the issues will very much carry weight in my future plan).


As someone who never planning something very well (you could said I'm pretty impulsive since jhs until now), in this year, in 2025 I'm planing to winning my parents heart again. This is very serious route I ever take. Because deep down I know, in this journey I must faced my own fear, opening my old wounds, and yeah being very vulnerable is something I dislike. Listen the keywords; I'm planning.


I do love planning, but maybe I just don't know how it works. So many things more likely done by power of God rather than my own plan. 

I have a plan to get married in my 28 year old, which is in this year if I'm not mistaken maybe in next year. And the big obstacle I dont want to get married because I feel terrible to have someone who will know the untangle threads between me and my parents. 

Remember, I never planning until the December 28th 2024, after some online class I had.

Tears fall, hand shaking, hard to breath. 

The wounds is open, and words by words I write on the paper. Trying to tell the truth to my self.

I don't want to be a victim, but on the paper, every piece of sad scene and dialogue, I put the blame for them.

The big reason behind this plan of course my age. Looking at my early 20s, I'm too busy fulfilling everyone's dream. Being a good daughter, a good friends, a good girlfriend for someone, a good grandchild, a good roomate, a good student for my sake of scholarship, and good good other things. Heaven knows I'm trying my best to be an excellent person at the time.

Not going to tell in this post how step by step I got a chance to more closer with my dad, but yeah it was hard. To take my first step making his morning coffee is hard. I'm scared of something will happen to me or my mother and it was suck. But in the end of the day I did it.

I already did it, with so many bismillah other prayer.

So I know if in the future I faced the hard things because it was my first step, with all my mother's prayers and my faith, everything will be fine...