Top Social

cerita-cerita untuk dikenang

Yang semrawut seperti kabel jalanan ibukota

Selasa, 21 Juli 2026
Sudah memasuki minggu-minggu akhir di bulan Juli. Kukira hidup akan terasa lebih mudah jika tidak menghitung hari. Tapi, dibanding kemudahan, yang kutemukan justru hampa seperti tanpa gravitasi.

Tidak semua hal bisa diperbaiki. Tidak juga semua hal bisa sesuai mimpi. 

Di hari menjelang pergantian umur, harapan-harapan yang sempat dilangitkan kini terasa mengambang di udara tanpa bisa melaju lebih tinggi ataupun jatuh di dasar bumi. Hanya bisa di lihat, mungkin diingat-ingat karena sempat sangat berambisi lalu berhenti tanpa sempat diperjuangkan lebih lagi.

Hanya seadanya.

Mungkin itu adalah kata yang menggambarkan kondisi saat ini.

Seadanya untuk terus bergerak agar emosi tidak menggulung jiwa menjadi mati.
Seadanya untuk terus hidup dan berbagi.
Seadanya untuk tetap ada meski rasanya sulit sekali.

Merasa kurang dan lebih di waktu bersamaan.
Merasa bisa dan bodoh di waktu bersamaan.
Merasa kuat dan lemah di waktu bersamaan.

Di hari menjelang sore, ada banyak energi yang ditelan tuntutan pekerjaan.
Ada air mata yang terlupa karena kesibukan. 
Ada kalimat penuh luka yang teringat tiba-tiba.


Saat energi luruh bersamaan dengan deretan pekerjaan yang telah usai,
lalu air dalam mata ikut terjun di pukul dua pagi,
kejujuran yang hanya bisa diketahui oleh telinga sendiri.


Ribut, semrawut, kusut.


Frustasi melawan hal yang tidak dimengerti.
Mengerti akan hal yang membuat frustasi.
Lantas jawaban termudahnya selalu ingin pergi.


Tapi mau sampai kapan?


Berdebat kapan waktu pergi terbaik, disaat yang sama waktu bermimpi masih panjang.
Sibuk dengan duka dari kalimat mereka, disaat yang sama pesan dari kawan menunggu dibalas.
Berlari dari hidup, disaat yang sama kehidupan dikesampingkan.


Mau sampai kapan?