Ada satu kalimat dari komik yang baru aku baca akhir-akhir ini. Kalimatnya begini:
If you cherish and keep him in the bottom of your heart, your life can still go on. You have everything but a romantic relationship now. You're doing fine.
Sejujurnya ini sudah jadi pegangan hidupku sejak lama. Mungkin sejak aku naksir anak sekelasku di bangku sekolah dulu yang kemudian kami tidak jadi apa-apa dan menjadi orang asing hingga hari ini. Jadi meskipun aku pernah punya hubungan romantis dengan lelaki lain lalu putus dan kejadian itu berulang, aku tetap merasa hidupku akan berjalan terus.
Meskipun ada kalanya aku merasa sulit, butuh distraksi besar-besaran hingga rasa kecewa yang kupunya itu mengecil dan bisa kulipat dan di tumpuk ke box patah hati di suatu tempat dalam jiwa, hidup ini akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Mungkin karena itu, aku enggan juga memulai sesuatu yang baru empat tahun belakangan ini. Bukan karena masih stuck di masa lalu. Tapi dari pandanganku, sesuatu seperti sebuah hubungan romansa terlalu banyak tuntutan, orang-orang mesti jadi dirinya sendiri daripada menjadi satu tubuh atas nama cinta. Karena kalau ia terlanjur menjadi satu tubuh atas dasar cinta yang mudah goyah itu, salah satu atau keduanya akan kesulitan saat cinta itu menjadi mati.
Hal ini hanya akan dimengerti oleh orang-orang sesamaku saja. Mereka yang pernah mendamba lalu kecewa. Atau orang-orang yang penuh pertimbangan saat diberi pilihan hidup. Atau orang-orang yang kesulitan merasa kasih dari orang lain karena ia adalah anti-fans dirinya sendiri.
Lantas kenapa pula aku terus mencoba mengasihi lelaki dari kalangan aktor film, penyanyi, bahkan orang tampan di internet? Sudah jelas aku tidak akan mau ada di hubungan romansa, kan?
Mungkin kamu juga bisa menebak alasannya.
Karena seorang pengamat tidak akan bisa naik level pengamatannya menjadi hubungan romansa yang kompleks. Pengagum kepada idol tidak akan bisa menjadi suami istri (well beberapa case bisa aja sih, tapi 1 banding 1 milyar kemungkinan kan? terlalu gambling.) Aku tetap bisa merasa senang melihat wajah orang tampan, tanpa harus panik dan kecewa ketika mereka tidak ada di dekatku. Aku gak perlu merasa cemas ketika mereka tidak balas DM (well karena kemungkinan di baca aja 0,99% kan?). Hubungan yang seperti ini tidak fragile karena memang tidak ada hubungan apa-apa di kenyataan.
Aku bisa mengarang bebas soal mereka sebagai pacar, suami, mantan pacar, pacar kedua, dan lain-lain. Mereka tidak menuntutku untuk jadi seorang pacar juga. Tidak ada pressure jika aku melakukan kesalahan di hidupku karena mereka juga gak kenal aku.
Tapi sayangnya, kadang perasaanku kelewat batas.
Ada saat-saat kesepian panjang yang seperti musim dingin itu di kehidupanku. Di musim seperti itu, seseorang yang awalnya hanya sekadar motivasi berubah bentuk jadi sesuatu romansa pribadi. Suatu keinginan untuk dimiliki. Lalu menggebu-gebu untuk diwujudkan meskipun sejak awal sudah mengerti letak halang rintangnya.
Kalau soal aktor atau penyanyi, aku sih hampir gak pernah menginginkan mereka untuk diriku sendiri ya. Mereka memang lebih cocok untuk semua orang aja, beda kehidupan duniawi. Tapi kalau kasusnya naksir orang-orang di dunia yang sama, cuma beda job tittle atau hobi, rasanya kok sulit sekali di-ignore perasaan seperti ini.
Di titik itulah aku sadar kalau ternyata aku memang butuh satu orang saja yang mengerti.
Jadi setiap musim dingin tiba, siapapun orangnya yang masuk dalam jarak pandang aman, biasanya akan kujadikan 'musim semi' dan semua salju yang ada disekitarku kuharap bisa mencair atau berganti warna jadi jingga. Saat musim dingin itu berlalu, berakhir pula 'musim semi' yang sudah kubuat sedemikian rupa. Sayangnya, metabolismeku cukup bagus. Musim dingin tiba berkali-kali, dan jarang sekali aku menjadikan satu orang sebagai musim semi di tengah badai sepi.
Tapi, setelah bertahun-tahun, rupanya ada satu yang menjadi musim semi di saat musim dingin sedang berlangsung di hidupku. Meski sedih, aku menyambutmu dengan tangan terbuka, menerima sepenuhnya ini hanya satu musim saja dan tidak akan lama warna jingganya. Menjadi sedikit binar pada pijar yang sudah lama samar.
Jatuh pada pesona memang tidak mudah untuk sadar kembali. Ia adalah gerbang untuk berbagai maut di musim berikutnya. Tapi kehadirannya memang indah, kilauannya seperti penyembuh untuk para penderita sakit keras. Maka aku tidak pernah percaya pengecut yang seperti tikus-tikus dalam got, yang ia tidak akan berani menunjukan mata di hadapan banyak cahaya, bisa menghadapiku. Aku perlu orang-orang cakap dalam bidangnya sendiri, yang berbinar saat menceritakan hidupnya, dengan itu aku bisa mengaburkan mata dan membuatku hanya bisa memandang cahaya seolah itu satu-satunya hal yang bisa kulihat.
Atau dengan kata lain, aku memang menyukai seseorang yang seperti art in the museum.
Indah, tapi tak bisa di bawa pulang.
Berkilau, dan tidak boleh tersentuh tangan.
Jatuh cinta untukku adalah hal-hal yang tidak bisa kumiliki meski ingin.
Karena tidak ada keinginan yang perlu direalisasi.
Sebab bisa jadi aku lah si tikus-tikus got saat berhadapan dengan si musim semi.
Sayangnya, musim dingin tahun ini terlalu panjang, meski kulihat ada satu warna jingga berkelip di hadapanku, aku harap tidak ada musim semi di tahun ini...