Top Social

cerita-cerita untuk dikenang

Will it feel less scary if I stop being so attached?

Rabu, 23 Juli 2025

Perjalanan jauh ternyata gak serta merta bikin orang jadi berhenti ketergantungan.


Entah untuk alasan apa lagi agenda kabur kali ini, ia sudah berhenti berpikir dan mencari alasan. Membiarkan apapun yang menurut-Nya terbaik akan ia jalani. Toh ketika ia benar-benar pergi, berarti semua hal-nya telah dipersiapkan-Nya. Tanpa perlu khawatir.


Namun segala surgawi yang telah dilalui saat menjalani perjalanan itu, ada banyak sekali rasa haru dan entah emosi apalagi yang ia rasakan. Pencernaan pikiran miliknya sering terganggu. Mungkin asupan nutrisi kepalanya masih pakai vitamin murahan. Karena di akhir-akhir menjelang pulang dari perjalanan panjang, mendadak banyak sekali air mata yang muncul acak begitu ia baca satu dua kata saja.


Ia memang senang membaca apapun. Cuitan twitter, kabar berita, novel, komik, buku, dan lainnya. Sayangnya ia masih tidak bisa membaca bagaimana perasaannya tiap hari. Mungkin, ada kalanya ia tahu dan merasakan apa yang terjadi hari itu. Tapi lebih sering lagi ia terjebak.


For a lost soul, driving long distances from place to place is a way to make sense of whatever happens in their life. Maybe it's called re-life.


Masalahnya, ia sendiri tidak menyangka bepergian membawa rasa ketergantungan lain yang selama ini ia tak ingin rasakan lagi: kehilangan. Bagaimana sebuah perjalanan yang hanya hitungan jam bisa menempel puluhan tahun di kepalamu, dan ketidakrelaan untuk pergi meninggalkan tempat atau sesuatu didalamnya jadi begitu menyesakkan hati?


Ia tidak pernah siap dengan kehilangan, meskipun sering mengalaminya secara mendadak di waktu yang acak.


Lantas ia bertanya-tanya, bagaimana caranya agar berhenti dari ketidaknyamanan itu? Haruskah ia berhenti bepergian seperti dirinya yang dulu, sengaja menjebak diri didalam dinding yang menyedihkan itu lagi? 


Will it feel less scary if I stop being so attached?


Agenda kabur-kaburan ini rasanya seperti lingkaran setan yang gak pernah usai. She bets heaven knows how hard she's trying to understand whatever happens in her life. Bukankah perjalanan ini justru semakin menambah panjang daftar hal-hal yang membuat jiwanya bertaut dengan ketergantungan?


Ia sendiri sadar kalau.. mungkin.. ada yang salah dari caranya mencerna scene by scene yang diberikan-Nya. Ketakutan tidak akan merasakan hal yang sama, ketakutan tidak lagi merasakan hal yang pernah terjadi, ketakutan semua yang pernah dicapai akan hilang begitu saja, dan ketakutan lainnya yang tidak bisa ia tuliskan.


Melepaskan memang butuh energi dan keberanian yang sangat besar. Terlalu besar sampai rasanya takut tak sanggup dilakukan. Menjadi utuh pun perlu energi besar bukan hanya dari diri sendiri, ia butuh tempat dengan orang yang membantunya. Ia hanya lupa meminta agar tak sendirian, karena terlalu sering merasa hidup hulu ke hilir seorang diri.


Mungkin ini saatnya ia mengganti lensa dari kamera hidupnya. Supaya tidak ada lagi pertanyaan sama; 

Will it feel less scary if I stop being so attached? Or will the emptiness hit harder once I let go?

I learn to be a spender..

Selasa, 15 Juli 2025

Resigning is a big thing. So is being a spender!


As someone who’s always been saving everything — money, food, friendships, love, family (I treasure them so much), punya keputusan 'ngaco' buat hidup di tempat baru selama 30 hari sama orang yang belum benar-benar dikenali juga adalah keputusan besar. BESAR SEKALI.


Ibuku sepertinya bingung tapi beliau menghormati keputusan anak tanpa banyak tanya seperti biasa (love u bu). Ayah pun tidak banyak tanya seperti biasa. Setelah 10 tahun pergi di kota orang tanpa bawa masalah. Mungkin 'cuma' 30 hari perjalananku kali ini pun tidak akan berasa lama bagi mereka. Yahh, aku hanya pergi ke kota yang jaraknya hanya 4 jam naik kereta api jarak jauh kok! Deket aja.


Hal pertama yang aku lakukan adalah berkabar ke teman-teman dekatku dulu. Kenapa? Soalnya biar ada temen aja sih. Aku kurang suka kalau terlalu solo trip tuh sepi banget gak bisa yapping hahaha. Obrolannya selalu bermula dengan: "Mau sebulan di kota X nih, ada yang mau join gak?" karena pikirku sharing kamar will save cost ya kan? Sayangnya mereka gak dalam fase bisa bekerja remote jadi gak ada yang bisa. Meskipun gitu, ada sisi diriku yang mau banget loh ngebolang sebulan di kota orang lain. Entah sama siapa, dan entah apa pula alasannya. 


Perjalanan aneh yang aku impikan ini dalam rangka ketemu eaJ di PJF dan main sama ex-team di kota yang sama. Kupikir supaya hemat biaya perjalanan, yaa sudah nginep lah satu bulan aja disana, jadi kan gak dua kali PP ke kota yang sama. DEMI HEMAT JADI AKU NGEKOS. Wow sebuah logika yang aneh bukan?!


Logika aneh ini bisa diperdebatkan, harga ngekos dan pp tiket kereta tuh sama btw (exclude biaya makan dan main kemana-mana ya). Cuma aku merasa budget hidup di kota tersebut sambil mencari pengalaman hidup di kota lain ini masih masuk ke kantong entertain-ku kok. 


Again, as a saver-type person, I calculate everything so much that people often think my MBTI is “J” instead of “P” — just because I seem so structured and overthink everything. But honestly, it’s just a habit from living that hustle life hahaha.


Aku sendiri udah mikir berulang kali sebelum akhirnya menyerahkan diri kepada Yang Maha Pencipta, biar yang terjadi ya terjadilah... 


Jujur, mungkin akan ada hari dimana aku menyesali keputusan keuangan yang dibuat berdasarkan logika aneh ini. Tapi sebagai orang yang behaviour-nya selalu hemat, aku penasaran mencicipi hidup without thingking too much when spending money i earn. Kebetulan kerjaanku pun bisa dibawa remote, I don't know in the future aku mau dan bisa ngelakuin kerjaan freelancer lagi atau gak, kesempatan ini mungkin cuma ada satu kali di hidup. Yahh.. mungkin itu cuma me and my defensive mode juga ya, alias lagi alasan. 


Dengan logika aneh yang kubawa itu, bertemulah aku dengan orang yang tipenya spender. Kebetulan? Kayaknya sih enggak ya!


Aku rasa, Allah emang nuntun aku buat belajar beneran jadi orang spender deh. Mungkin ada yang salah dari caraku 'berhemat' selama ini jadi aku disuruh sekamar sama temanku ini. Mulai dari pemilihan tipe kamar kosan, the foods, tempat bermain dan lainnya 180 derajat dari bayanganku. It's never bad, her taste of life tuh make sense. Sampe aku banyak mikir "apa gue terlalu hidup survival mode mulu ya" HAHAHA.


Memang jadinya budget yang aku perkirakan jadi bengkak, ini lah cost yang perlu dikeluarkan buat hidup 'layak' bukan cuma 'bertahan hidup' aja. Jelas, awalnya gak nyaman. Lumayan loh stress calories yang aku dapet pas lihat-lihat rate harga kosan yang sesuai 'standar hidup orang spender' tuh aku jadi kayak dapet alarm berkali-kali. Setelah pertimbangan, akhirnya kita berdua ada di angka yang cukup oke, tidak extreme buat saver dan tidak dibawah expectation buat spender.


Itu baru soal kamar ya, masih ada banyak sekali yang dipelajari selama hampir sebulan (baru setengah perjalanan, nanti di update next month after this journey ends yakk wkwk). Ternyata jadi spender itu emang beneran harus dilatih dan harus sama orang yang biasa spending, karena kalo gak yaa akan selamanya hemat mulu.


Aku gak bilang kalau hemat itu salah, atau jadi spender itu bagus. Semuanya oke asal sesuai porsi. Masalahnya banyak orang yang terlalu boros (spender mentok) sampe gak bisa nabung. Ada juga yang macam diriku ini nabung mulu sampe gak rela keluarin duit, kan gak bagus juga itu jadi pelit....


Well, sebagaimana arah angin bisa berubah, begitu pula perjalanan. Teman ex-team ku malah gak jadi main :D aku udah terlanjur disini setengah bulan, jadi mari kita nikmati tempat-tempat baru di kota yang orang-orangnya terlalu slow living.......


See you di next post!