Perjalanan jauh ternyata gak serta merta bikin orang jadi berhenti ketergantungan.
Perjalanan jauh ternyata gak serta merta bikin orang jadi berhenti ketergantungan.
Entah untuk alasan apa lagi agenda kabur kali ini, ia sudah berhenti berpikir dan mencari alasan. Membiarkan apapun yang menurut-Nya terbaik akan ia jalani. Toh ketika ia benar-benar pergi, berarti semua hal-nya telah dipersiapkan-Nya. Tanpa perlu khawatir.
Namun segala surgawi yang telah dilalui saat menjalani perjalanan itu, ada banyak sekali rasa haru dan entah emosi apalagi yang ia rasakan. Pencernaan pikiran miliknya sering terganggu. Mungkin asupan nutrisi kepalanya masih pakai vitamin murahan. Karena di akhir-akhir menjelang pulang dari perjalanan panjang, mendadak banyak sekali air mata yang muncul acak begitu ia baca satu dua kata saja.
Ia memang senang membaca apapun. Cuitan twitter, kabar berita, novel, komik, buku, dan lainnya. Sayangnya ia masih tidak bisa membaca bagaimana perasaannya tiap hari. Mungkin, ada kalanya ia tahu dan merasakan apa yang terjadi hari itu. Tapi lebih sering lagi ia terjebak.
For a lost soul, driving long distances from place to place is a way to make sense of whatever happens in their life. Maybe it's called re-life.
Masalahnya, ia sendiri tidak menyangka bepergian membawa rasa ketergantungan lain yang selama ini ia tak ingin rasakan lagi: kehilangan. Bagaimana sebuah perjalanan yang hanya hitungan jam bisa menempel puluhan tahun di kepalamu, dan ketidakrelaan untuk pergi meninggalkan tempat atau sesuatu didalamnya jadi begitu menyesakkan hati?
Ia tidak pernah siap dengan kehilangan, meskipun sering mengalaminya secara mendadak di waktu yang acak.
Lantas ia bertanya-tanya, bagaimana caranya agar berhenti dari ketidaknyamanan itu? Haruskah ia berhenti bepergian seperti dirinya yang dulu, sengaja menjebak diri didalam dinding yang menyedihkan itu lagi?
Will it feel less scary if I stop being so attached?
Agenda kabur-kaburan ini rasanya seperti lingkaran setan yang gak pernah usai. She bets heaven knows how hard she's trying to understand whatever happens in her life. Bukankah perjalanan ini justru semakin menambah panjang daftar hal-hal yang membuat jiwanya bertaut dengan ketergantungan?
Ia sendiri sadar kalau.. mungkin.. ada yang salah dari caranya mencerna scene by scene yang diberikan-Nya. Ketakutan tidak akan merasakan hal yang sama, ketakutan tidak lagi merasakan hal yang pernah terjadi, ketakutan semua yang pernah dicapai akan hilang begitu saja, dan ketakutan lainnya yang tidak bisa ia tuliskan.
Melepaskan memang butuh energi dan keberanian yang sangat besar. Terlalu besar sampai rasanya takut tak sanggup dilakukan. Menjadi utuh pun perlu energi besar bukan hanya dari diri sendiri, ia butuh tempat dengan orang yang membantunya. Ia hanya lupa meminta agar tak sendirian, karena terlalu sering merasa hidup hulu ke hilir seorang diri.
Mungkin ini saatnya ia mengganti lensa dari kamera hidupnya. Supaya tidak ada lagi pertanyaan sama;
Will it feel less scary if I stop being so attached? Or will the emptiness hit harder once I let go?