Top Social

cerita-cerita untuk dikenang

Kembang api kecil setelah hujan

Senin, 25 Mei 2026

Tidak ada yang lebih mencintaiku daripada Yang Maha Cinta. Ia selalu tahu kebutuhanku dan keresahanku. Membantuku tanpa kusadari dan semuanya akan menjadi mudah untuk kujalani. Maka, jika kamu akan mencintaiku, mintalah izin-Nya, supaya kita bisa berada di bahtera yang sama.


Ada sebuah hari dimana langit biru dengan awan-awan tipis yang menghiasi itu jadi tanda kalau di hari tersebut, aku akan penuh syukur dan bermain. Di hari dimana langit terasa indah itulah, memori-memori dari hari-hari sebelumnya bermunculan. 

Morning breeze after rain.

Ada juga hari dimana langit tidak biru, ia mendung tetapi udaranya sangat sejuk dengan angin menerpa kulit dengan lembut. Hari setelah hujan, selalu jadi juara dua untuk aku cintai dan hatiku di saat itu akan penuh rasa syukur.

Tapi hari-hari indah itu tidak selalu datang tiap hari di setiap bulan.

Lebih banyak hari dimana aku tidak suka pantulan wajahku di kaca. Tidak suka dengan mood-ku sendiri. Tidak suka bagaimana tekstur kulitku di kamera. Tidak suka dengan hasil desain dan karyaku sendiri tapi sudah harus dikirim ke atasan. Tidak suka dengan nada suara di telefon. Dan masih banyak hal lain. 

Idealisme.

Sejak kecil, banyak orang yang bilang aku idealis, perfeksionis, dan akupun mengamini hal itu. 

Aku membawa identitas itu hingga dewasa. Tapi, beberapa tahun terakhir, rasanya mengendur sisi-sisi 'harus sempurna' di hadapan banyak orang. Aku tahu, kalau diriku kelelahan untuk terus sempurna, tapi aku merasa harus. 

Dan saat identitas itu meluntur seiring algoritma ilmu dan bijaksananya waktu, menjadi sempurna sudah bukan hal yang kukejar di hari-hari seperti ini. Melainkan, aku mau menjadi utuh sebagaimana kurang sempurnanya fisik dan pengetahuanku. Tentu saja rasanya seperti alien di laut lepas. Asing, aneh, konyol, tidak pada tempatnya. Tapi hal baiknya, aku mempersingkat waktu gelisahku ketika ada hal-hal yang tidak sesuai dalam rencana. 

Aku tidak bilang kalau aku bisa menghilangkan rasa gelisah dan panik ketika jadwal sempurna di kepalaku tidak sesuai perkiraaan. Aku masih merasakan itu. Masih berlebihan berpikir dan panik. Hanya saja, tidak lagi berlarut-larut. Aku punya boundaries, dan pertahanan terakhirku ada pada keimanan yang sering naik turun itu. 

Maka saat percikan kembang api tiba-tiba hadir lagi di suatu hari selepas hujan, hari dimana aku sangat bersyukur saat itu, mendadak semuanya menjadi tidak terkendali. Dunia jadi terlalu berwarna, ada banyak pohon warna jingga dan senyumku yang tidak henti bermunculan saat memori pop out satu per satu di kepala.

Playlist musik-ku berubah setelah melihat kembang api kecil itu.

Akan selalu indah di mataku melihat kembang api, meski sayang keindahannya tidak akan bertahan lama. Terlalu singkat tapi indah. Tidak ada kata-kata lain yang menurutku cocok untuk kombinasi dua hal yang terjadi di hari yang kusuka itu.

Mendadak, aku jadi filsuf atas perasaanku. Menerjemahkan apa yang kulihat dan kurasa lantas membuat teorinya. Mungkin tidak akan sempurna, tapi di hari yang aku suka, akan ada saatnya untuk jatuh cinta dengan rasa rela dan waktu yang lama. Seindah kembang api kecil setelah hujan hari itu. Atau mungkin ada hal lain yang baru bisa dideskripsikan di hari kemudian.

Pertanyaan utamanya, apakah mimpiku sudah siap diraih sehingga butuh support lalu mencari si nomor satu di panggilan telefon?

Kita tunggu jawabannya di cerita lainnya ya. 

Menjadi kurang adalah kelebihan

Minggu, 19 April 2026

Mereka bilang, semakin bertambahnya umur, semakin pula bisa menjadi bijak dalam melihat segala sesuatu. Tapi bagiku, bertambah umur, justru semakin merasakan perbedaan jarak antara diriku dan teman-temanku.


Tulisan ini, aku ketik disela-sela pekerjaan sampinganku. Benar, aku bekerja senin-jumat sebagai karyawan kantoran dan senin-minggu sebagai pekerja lepas. Hari-hari penuh deadline, terkadang ada lelah mental yang kemudian menjadi kelelahan fisik karena cuaca dan jarak tempuh kantor ke kosan di ibukota. Shout out untuk semua pekerja dimanapun kalian berada. Termasuk ayahku.


Beliau lah yang membuatku hidup cukup nyaman sampai hari ini. 


Memang, kalau dibandingkan dengan seluruh teman-temanku yang terlahir dengan sendok emas ditangannya, mungkin aku adalah anak yang terlahir dengan sendok kayu. Lalu ayah, yang mengubah sendok itu menjadi stainless steel yang lebih awet. Meski tidak fancy, ataupun shining seperti sendok perak ataupun emas. Sebenarnya istilah untuk kalangan kelas bawah itu perunggu sih, tapi aku lebih suka sendok kayu daripada perunggu. Lagian perunggu itu tetap 'mahal' daripada kayu yang bisa kamu temukan di Pulau Jawa.


Bisa dibilang, ayahku itu anak terakhir dari 6 saudara lain. Kalau beliau cerita betapa miskinnya hidup bahkan satu telur dibagi enam, atau bahkan roti bakar selai stroberi aja gak sanggup kebeli, aku jadi merasa miris. Sebagai anak tunggal, aku hampir gak pernah merasa momen kekurangan seperti itu. Memang ada sih masa-masa aku tidak bisa jajan pas sekolah dulu, tapi rasanya hidupku aman kok, masih makan nasi, aku bahkan berlangganan bobo sejak kelas 3 SD sampai lulus kelas 6. Buku tulis, buku gambar yang sering habis pun bisa bilang ayah, nanti pulang kantor dia akan bawa buku gambar baru.


Kata ibu, kelebihanku adalah anak yang jarang minta sesuatu. Mungkin itu sebabnya, aku gak pernah merasa kekurangan sejak kecil hingga beranjak remaja. Aku gak punya pembanding harus punya A,B,C,D di masa putih merah. Kemudian, saat putih biru, barulah aku merasa ada jarak yang cukup jauh antara aku dan teman sebayaku yang lain. Soalnya anak yang punya tas ransel branded, diantar-jemput mobil, semuanya ada di kelas tertentu. Sedangkan aku dan teman-teman yang ada di level ekonomi sama ada di kelas pojokan, hahaha! 


Walaupun risih, tapi mindsetku saat putih biru itu : menjadi aneh itu keren. Alias, aku gak mau ikut-ikutan trend pake tas-tas mahal, punya Blackberry (dulu alasanku kalau ditanya temen kenapa gak pake BB jawabanku gak asik buat main game!), tapiiii namanya masih remaja pemikiran itu tentu aja labil. Ada momen-nya aku ikutan punya alfalink buat terjemahan itu lohhh. Aku bahkan lupa prosesnya sampai punya alfalink itu gimana. Seingetku dulu mahal banget deh. Termasuk pas butuh laptop untuk tugas SMP, aku harus ranking 1 di kelas dulu, syarat dari ayah. Setelah dipikir lagi, mungkin sebenarnya, beliau lagi muter otak gimana cara beliin laptop harga 2jutaan di tahun 2011an dengan gaji pegawai pemda kabupaten itu. 



Kehidupanku alhamdulillah gak pernah kekurangan. Tapi gak juga di level over flow yang suka dicap 'kaya' sama keluarga besar. Jadi, selalu ada di tengah-tengah. Gak kasihan banget, tapi yaa gak bisa foya-foya. Kondisi itu yang menyebabkan ayahku jadi super saving. Lalu turun ke aku, makanya motto hidupku selama 25 tahun hidup adalah : hemat!


Baru di dua tahun terakhir, setelah S2-ku selesai, baru mencoba ambil resiko untuk belajar spend money. Rasanya adrenaline rush! Jantung bergetar, kepala pusing, buang napas berat mulu, hahaha. Momen itu adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri. Aku booking trip ke SG-KL sama temanku. Meskipun udah di siapkan budget untuk liburan, pas pake beneran, aku jadi kayak "ADUHH DUITKUUUUUU!!!" mau nangis WKWKWK.


Dari situ, insecurity yang diam-diam aku pendam ternyata muncul satu per satu. Aku baru sadar setelah perjalanan 878 kilometer lewat udara itulah, wah ternyata gak semua orang seberuntung aku. Menjadi anak tunggal yang tidak ditekan keluarga selain harus selamat, makan dan hidup sehat dimanapun berada.


Tapi, disaat yang sama, di umur ke-27 tahun, aku melihat kehidupanku yang baik-baik saja itu penuh celah. Hal-hal yang tidak terucap justru jadi monster yang bersemayam di diri ini. Dan melihat ayahku yang hidupnya penuh kerja keras demi sandang, pangan dan papan keluarganya, dia belum pernah juga menginjakkan kaki ke luar negeri. Bahkan liburan yang proper. Lantas aku sedih. 


Aku yang ada di level ekonomi hari ini, adalah hasil dibantu ayah untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang ia miliki saat masih kecil. Sayangnya, untuk menerima kenyataan bahwa aku bukan anak orang kaya yang bisa menghamburkan uang sebisaku ternyata tidak semudah itu. Ketakutan akan masa depan masih jadi big boss yang belum bisa kukalahkan. Mungkin beberapa waktu kedepan aku bisa mengatasinya, tapi saat ini aku masih mencari cara agar hidupku bukan di mode bertahan hidup terus.


Aku di masa depan akan sudah jauh lebih tenang soal finansial. Mungkin akan bersantai minum chai tee di Bangkok, atau masih di Indonesia dengan dua anak yang bergelantungan di kakiku sambil mengerjai si suami yang sedang memasak. We never know. Tapi yang jelas, kekuranganku ini sebagai orang yang saver mentok, bisa jadi alat ataupun bahan bakar perjalanan menuju aku versi terbaik.


Semoga kamu yang baca juga mulai bisa embrace kekuranganmu yaa!

Menjadi Alien Di Laut Lepas

Kamis, 26 Maret 2026
Aku gak tau Luffy si Bajak Laut pernah merasakan ini gak sih dia pas lagi mengembara sebelum ketemu Zoro dan Nami. Karena kalau aku sih ada di tahap jadi Koby pas awal-awal ya. Bedanya Koby udah tau mau jadi Marine tapi gak berani sama Alvida aja. Sedangkan aku udah mah gak tau mau jadi Marine atau Pirates, kena tahan pula di DC Cakung! Pengiriman tidak diantar karena tidak ada alamatnya!!


Kalau dulu tiap merasa tidak berguna, ada hasrat ingin berhenti bernapas. Setidaknya improvement yang kulakukan di tahun ini adalah tidak lagi ada keinginan berhenti bernapas. Aku masih mau hidup walaupun tidak berguna (in my defense, ketidakbergunaanku masih lebih berguna daripada pejabat yang punya kewenangan tapi diem aja itu). Nah karena masih nafas, jadinya ingin melakukan hal-hal di luar nalar karena aku merasa tertekan dan marah (gak tau amarah ini datangnya dari mana).


Sayang banget dunia ini aku gak tau cheat klapaucius nya apa. Aku merasa harusnya dunia ini juga ada cheat code juga tapi aku aja yang gak tau. Just like a game i used to play when im in school, hidup juga mestinya ada level-level dan bisa di cheat! 

Cheat pertama itu menurutku soal pasangan. Jangan ketawa yaa. Walaupun ogah-ogahan gini, i'm just a girl~ ada banget kalo abis liat keluarga muslim yg sehat secara mental dan sedang ketawa-ketawa gitu lah, pengen punya juga. Makanya menurutku orang yang punya pasangan tuh dia bisa ngecheat dunia ini HAHAHA karenaaaaa kok bisa? 8 milyar manusia di dunia dan memilih 1 orang untuk dipercayai seluruh kisah tergelap dan terterang, menurutku sih amaze ya. Aku mau juga dong cheat-nya kak!


Cheat kedua, menurutku soal tujuan hidup. I dont say soal uang ya. At least dia tau lagi ngelakuin apa buat tujuannya. Dan itu tuh! Menurutku sih super sexy ya. Ngecheat banget hidup punya purpose dan menjalankannya. Kayak... how? Aku ada sih keinginan dari kecil, pengen banget jadi penulis yang keliling dunia buat tau aroma dan feeling di tempat itu buat jadi narasi. Cuma buat living a dream tuh...... butuh makan! Meromantisasinya sih gampang, tapi menjalaninya kan gak realistis (menurutku saat ini). Jadi aku kayak hidup segan mati tak mau gitu karena mau coba cheat kedua ini rasanya kayak kasian banget (aku gak suka dikasihanin orang lain, jadi i push my self for becoming rich aunty they said. so here I am. dampaknya jadi kayak hidup gak seru dan monoton aja sih.).


Terus ada orang yang punya dua-duanya! HAHAHA KEREN BANGET!

Gak lagi sarkas, beneran muji. Aku sih amaze banget sama orang yang bisa ngecheat dua hal ini di dunia. Soalnya aku mau ngecheat pun gak tau caranya. Kalau ditanya iri atau gak sama orang begitu, jawabanku ya IRI LAHHH. Tapi kan aku pun gak tau usaha apa yang dia lakukan sebelum akhirnya cheat pasangan dan tujuan hidup ini dia punya. Maybe, aku belum se-usaha itu jadi gak bisa ngecheat, or God know aku gak bisa kehilangan hal lain yang kupunya demi dua cheat itu. I really don't know. 


Makanya dalam rangka menghilangkan perasaan jadi alien di lautan, aku mencoba beradaptasi jadi ikan di tempat baru ini. Pilihannya cuma dua, aku berhasil jadi ikan. Atau yang kedua, aku tetep jadi alien dan mencari planetku. Karena dunia ini cair dan Dee Lestari bilang untuk bisa adaptasi, maka aku akan mencoba. Kalau gagal pun gak akan ada yang menyalahkan, ini kemauanku, disertai doa dari yang menyayangiku dan iringan kasih sayang-Nya. 


Arc China Town telah usai. Episode baru ini kunamai 'Walk in SCBD' hahaha! We will see what happen here and what lesson learned i'll gain. 

Kepada yang memutuskan pergi tanpa aba-aba

Kamis, 12 Maret 2026

Mungkin tandanya ada,

tapi sang ratu tidak merasa

bahwa raja tidak ingin lama-lama.


Dengan air mata yang terasa hangat di telapak tangan,

melihat semua perjalanan mereka terasa melelahkan

terbayang sekeras apa cara mereka menjalani beban.


Lagi-lagi dia bilang soal waktu.

Tidak ada yang selamanya di dunia ini.

Betul, ternyata kamu salah satu buktinya.


Penulis-penulis payah itu memang senang meromantisasi nasib buruk.

Makanya dia bilang mau bertemu kamu di kehidupan lainnya.

Kamu dan dia padahal masih ada di kehidupan ini.


Tapi raja dan ratu biasa berdampingan, kan?

Kali ini aku bersama penulis-penulis payah itu ya,

untuk sekali lagi menggenggam harap asalkan kamu kembali.


Dengan air mata yang terasa hangat di telapak tangan,

hati yang terasa berduka dan mata sulit terpejam,

pada akhirnya kubiarkan mereka melaju sesuai keinginan.


Sebab sebagai penonton di luar arena,

bidak-bidak catur yang kita suka bisa tersisih tanpa aba-aba,

seindah apapun warna dan polesannya.














[12.03.26 - ditulis setelah dua hari menahan diri dari membaca press release Heeseung En-]


Apakah menjadi dingin adalah bentuk pertahanan diri

Minggu, 01 Februari 2026

Pertanyaan yang baru muncul setelah puluhan kali menonton j-drama Itakiss LIT dan k-drama Lovely Runner. Kalo ditanya apa nyambungnya, jawabannya gak ada. Tapi berkat nonton dua series tersebut aku jadi sadar dengan trigger yang berulang, pola kalimat yang selalu kuhindari, dan jadi berpikir ke dalam, sebenernya apakah aku yang saat ini adalah bentuk pertahanan diri akibat ketidaknyamanan yang selalu kuanggap biasa-biasa saja ya.


Mungkin di masa depan, saat aku sudah lebih baik dalam mengelola isi kepala dan hidup lebih bijaksana, tulisan ini akan terasa vulnerable dan terlalu naif, tapi saat nulis ini, ada momentum yang muncul di masa lalu. Rasanya 'terlihat' di saat terburuk, berbalas perasaan, dan semua yang jingga di masa lalu jadi monster besar, hitam dan menakutkan saat ini.


Sadar betul ada yang salah, tapi entah yang mana. Lalu jika ada siapapun hendak menebas monster besar itu, aku sendiri yang akan pasang badan untuk menahannya agar tidak melakukan itu. Aneh ya? Apakah aku akan jadi kesepian tanpa si monster? Bukannya monster itu aku takuti? Lantas kenapa saat ada yang mau mendekati monster untuk menjagaku, aku malah enggan dijaga? Apakah jika aku dijaga orang lain, orang lain itu tidak akan menyakitiku? Si monster yang bersemayam itu tidak menyakitiku lagi, ia hanya duduk diam karena tidak ada pintu yang aku buka untuk orang lain. Justru, dalam pikirku, jika aku membiarkan seseorang masuk, si monster akan berulah lagi menjadi lebih besar, lebih menakutkan dari sebelumnya. Dan dibandingkan aku merasa kehilangan diri lagi, bukankah sebaiknya tidak perlu buka pintu sejak awal?


Lagi pula, hidup biasa-biasa aja udah capek, apa perlu hidupku ditambah drama-drama lain dengan karakter yang belum tentu bisa kusukai? Apa iya akan lebih baik? Bagaimana kalau lebih buruk? Tapi, buruk itu apa? Sampai batas mana sebuah hal jadi hal buruk? Apa kamu bisa menjawabnya?


Saat ini belum bisa jawab sih, mungkin besok, atau lusa. Atau tahun depan, kalau tidak lupa. Bagaimanapun aku enggan hidup begini ya, capek. Tapi aku juga tidak tau mau seperti apa. Apa boleh, request supaya dapet 'hint' biar game-nya bisa ke next level ya?

What I am doing in first month of 2026

Sabtu, 31 Januari 2026

Moment of heartbreak, I didn't passed the JLPT things last year so I try to pushed my self in my 28 to learn again. Somehow writing in english seems easier (but please no grammar), gladly I read thousand fanfiction story until I can write like this today. 


Maybe this year would fill with learning new language, and I really hope in the end of 2026, I can speak arabic and japanese. I want to save my money more to traveling, and go somewhere not in my homeland for new experience. It's so sad that knowing myself isn't eligible for aboard life, the main reason I start my language class. How can other people look so easy to change their passport to other country, when I still watching some k-drama in my room from this island?


Right, maybe I'm too daydreaming, they said I'm not grateful daughter cause I always in different city, far from parents. But if I can make an excuse, I want to life better with them. In money, love is something you should trade. They're easier and unconditionally love is something that parents will give to you, meanwhile money isn't like that. 


In my case, i do not trade love for money. But I trade them for experience. Yes, this sounds loveless or egoist, but I want to be someone better than them, I try my luck, my mom's dua, and my dad's eyes, for something i never see. Sound sad, but actually my toxic trait is make it myself seen for me. 


I'll write something better next month. this is just brainrot. see you next time.