Tidak ada yang lebih mencintaiku daripada Yang Maha Cinta. Ia selalu tahu kebutuhanku dan keresahanku. Membantuku tanpa kusadari dan semuanya akan menjadi mudah untuk kujalani. Maka, jika kamu akan mencintaiku, mintalah izin-Nya, supaya kita bisa berada di bahtera yang sama.
Mereka bilang, semakin bertambahnya umur, semakin pula bisa menjadi bijak dalam melihat segala sesuatu. Tapi bagiku, bertambah umur, justru semakin merasakan perbedaan jarak antara diriku dan teman-temanku.
Tulisan ini, aku ketik disela-sela pekerjaan sampinganku. Benar, aku bekerja senin-jumat sebagai karyawan kantoran dan senin-minggu sebagai pekerja lepas. Hari-hari penuh deadline, terkadang ada lelah mental yang kemudian menjadi kelelahan fisik karena cuaca dan jarak tempuh kantor ke kosan di ibukota. Shout out untuk semua pekerja dimanapun kalian berada. Termasuk ayahku.
Beliau lah yang membuatku hidup cukup nyaman sampai hari ini.
Memang, kalau dibandingkan dengan seluruh teman-temanku yang terlahir dengan sendok emas ditangannya, mungkin aku adalah anak yang terlahir dengan sendok kayu. Lalu ayah, yang mengubah sendok itu menjadi stainless steel yang lebih awet. Meski tidak fancy, ataupun shining seperti sendok perak ataupun emas. Sebenarnya istilah untuk kalangan kelas bawah itu perunggu sih, tapi aku lebih suka sendok kayu daripada perunggu. Lagian perunggu itu tetap 'mahal' daripada kayu yang bisa kamu temukan di Pulau Jawa.
Bisa dibilang, ayahku itu anak terakhir dari 6 saudara lain. Kalau beliau cerita betapa miskinnya hidup bahkan satu telur dibagi enam, atau bahkan roti bakar selai stroberi aja gak sanggup kebeli, aku jadi merasa miris. Sebagai anak tunggal, aku hampir gak pernah merasa momen kekurangan seperti itu. Memang ada sih masa-masa aku tidak bisa jajan pas sekolah dulu, tapi rasanya hidupku aman kok, masih makan nasi, aku bahkan berlangganan bobo sejak kelas 3 SD sampai lulus kelas 6. Buku tulis, buku gambar yang sering habis pun bisa bilang ayah, nanti pulang kantor dia akan bawa buku gambar baru.
Kata ibu, kelebihanku adalah anak yang jarang minta sesuatu. Mungkin itu sebabnya, aku gak pernah merasa kekurangan sejak kecil hingga beranjak remaja. Aku gak punya pembanding harus punya A,B,C,D di masa putih merah. Kemudian, saat putih biru, barulah aku merasa ada jarak yang cukup jauh antara aku dan teman sebayaku yang lain. Soalnya anak yang punya tas ransel branded, diantar-jemput mobil, semuanya ada di kelas tertentu. Sedangkan aku dan teman-teman yang ada di level ekonomi sama ada di kelas pojokan, hahaha!
Walaupun risih, tapi mindsetku saat putih biru itu : menjadi aneh itu keren. Alias, aku gak mau ikut-ikutan trend pake tas-tas mahal, punya Blackberry (dulu alasanku kalau ditanya temen kenapa gak pake BB jawabanku gak asik buat main game!), tapiiii namanya masih remaja pemikiran itu tentu aja labil. Ada momen-nya aku ikutan punya alfalink buat terjemahan itu lohhh. Aku bahkan lupa prosesnya sampai punya alfalink itu gimana. Seingetku dulu mahal banget deh. Termasuk pas butuh laptop untuk tugas SMP, aku harus ranking 1 di kelas dulu, syarat dari ayah. Setelah dipikir lagi, mungkin sebenarnya, beliau lagi muter otak gimana cara beliin laptop harga 2jutaan di tahun 2011an dengan gaji pegawai pemda kabupaten itu.
Kehidupanku alhamdulillah gak pernah kekurangan. Tapi gak juga di level over flow yang suka dicap 'kaya' sama keluarga besar. Jadi, selalu ada di tengah-tengah. Gak kasihan banget, tapi yaa gak bisa foya-foya. Kondisi itu yang menyebabkan ayahku jadi super saving. Lalu turun ke aku, makanya motto hidupku selama 25 tahun hidup adalah : hemat!
Baru di dua tahun terakhir, setelah S2-ku selesai, baru mencoba ambil resiko untuk belajar spend money. Rasanya adrenaline rush! Jantung bergetar, kepala pusing, buang napas berat mulu, hahaha. Momen itu adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri. Aku booking trip ke SG-KL sama temanku. Meskipun udah di siapkan budget untuk liburan, pas pake beneran, aku jadi kayak "ADUHH DUITKUUUUUU!!!" mau nangis WKWKWK.
Dari situ, insecurity yang diam-diam aku pendam ternyata muncul satu per satu. Aku baru sadar setelah perjalanan 878 kilometer lewat udara itulah, wah ternyata gak semua orang seberuntung aku. Menjadi anak tunggal yang tidak ditekan keluarga selain harus selamat, makan dan hidup sehat dimanapun berada.
Tapi, disaat yang sama, di umur ke-27 tahun, aku melihat kehidupanku yang baik-baik saja itu penuh celah. Hal-hal yang tidak terucap justru jadi monster yang bersemayam di diri ini. Dan melihat ayahku yang hidupnya penuh kerja keras demi sandang, pangan dan papan keluarganya, dia belum pernah juga menginjakkan kaki ke luar negeri. Bahkan liburan yang proper. Lantas aku sedih.
Aku yang ada di level ekonomi hari ini, adalah hasil dibantu ayah untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang ia miliki saat masih kecil. Sayangnya, untuk menerima kenyataan bahwa aku bukan anak orang kaya yang bisa menghamburkan uang sebisaku ternyata tidak semudah itu. Ketakutan akan masa depan masih jadi big boss yang belum bisa kukalahkan. Mungkin beberapa waktu kedepan aku bisa mengatasinya, tapi saat ini aku masih mencari cara agar hidupku bukan di mode bertahan hidup terus.
Aku di masa depan akan sudah jauh lebih tenang soal finansial. Mungkin akan bersantai minum chai tee di Bangkok, atau masih di Indonesia dengan dua anak yang bergelantungan di kakiku sambil mengerjai si suami yang sedang memasak. We never know. Tapi yang jelas, kekuranganku ini sebagai orang yang saver mentok, bisa jadi alat ataupun bahan bakar perjalanan menuju aku versi terbaik.
Semoga kamu yang baca juga mulai bisa embrace kekuranganmu yaa!
Mungkin tandanya ada,
tapi sang ratu tidak merasa
bahwa raja tidak ingin lama-lama.
Dengan air mata yang terasa hangat di telapak tangan,
melihat semua perjalanan mereka terasa melelahkan
terbayang sekeras apa cara mereka menjalani beban.
Lagi-lagi dia bilang soal waktu.
Tidak ada yang selamanya di dunia ini.
Betul, ternyata kamu salah satu buktinya.
Penulis-penulis payah itu memang senang meromantisasi nasib buruk.
Makanya dia bilang mau bertemu kamu di kehidupan lainnya.
Kamu dan dia padahal masih ada di kehidupan ini.
Tapi raja dan ratu biasa berdampingan, kan?
Kali ini aku bersama penulis-penulis payah itu ya,
untuk sekali lagi menggenggam harap asalkan kamu kembali.
Dengan air mata yang terasa hangat di telapak tangan,
hati yang terasa berduka dan mata sulit terpejam,
pada akhirnya kubiarkan mereka melaju sesuai keinginan.
Sebab sebagai penonton di luar arena,
bidak-bidak catur yang kita suka bisa tersisih tanpa aba-aba,
seindah apapun warna dan polesannya.
Pertanyaan yang baru muncul setelah puluhan kali menonton j-drama Itakiss LIT dan k-drama Lovely Runner. Kalo ditanya apa nyambungnya, jawabannya gak ada. Tapi berkat nonton dua series tersebut aku jadi sadar dengan trigger yang berulang, pola kalimat yang selalu kuhindari, dan jadi berpikir ke dalam, sebenernya apakah aku yang saat ini adalah bentuk pertahanan diri akibat ketidaknyamanan yang selalu kuanggap biasa-biasa saja ya.
Mungkin di masa depan, saat aku sudah lebih baik dalam mengelola isi kepala dan hidup lebih bijaksana, tulisan ini akan terasa vulnerable dan terlalu naif, tapi saat nulis ini, ada momentum yang muncul di masa lalu. Rasanya 'terlihat' di saat terburuk, berbalas perasaan, dan semua yang jingga di masa lalu jadi monster besar, hitam dan menakutkan saat ini.
Sadar betul ada yang salah, tapi entah yang mana. Lalu jika ada siapapun hendak menebas monster besar itu, aku sendiri yang akan pasang badan untuk menahannya agar tidak melakukan itu. Aneh ya? Apakah aku akan jadi kesepian tanpa si monster? Bukannya monster itu aku takuti? Lantas kenapa saat ada yang mau mendekati monster untuk menjagaku, aku malah enggan dijaga? Apakah jika aku dijaga orang lain, orang lain itu tidak akan menyakitiku? Si monster yang bersemayam itu tidak menyakitiku lagi, ia hanya duduk diam karena tidak ada pintu yang aku buka untuk orang lain. Justru, dalam pikirku, jika aku membiarkan seseorang masuk, si monster akan berulah lagi menjadi lebih besar, lebih menakutkan dari sebelumnya. Dan dibandingkan aku merasa kehilangan diri lagi, bukankah sebaiknya tidak perlu buka pintu sejak awal?
Lagi pula, hidup biasa-biasa aja udah capek, apa perlu hidupku ditambah drama-drama lain dengan karakter yang belum tentu bisa kusukai? Apa iya akan lebih baik? Bagaimana kalau lebih buruk? Tapi, buruk itu apa? Sampai batas mana sebuah hal jadi hal buruk? Apa kamu bisa menjawabnya?
Saat ini belum bisa jawab sih, mungkin besok, atau lusa. Atau tahun depan, kalau tidak lupa. Bagaimanapun aku enggan hidup begini ya, capek. Tapi aku juga tidak tau mau seperti apa. Apa boleh, request supaya dapet 'hint' biar game-nya bisa ke next level ya?
Moment of heartbreak, I didn't passed the JLPT things last year so I try to pushed my self in my 28 to learn again. Somehow writing in english seems easier (but please no grammar), gladly I read thousand fanfiction story until I can write like this today.
Maybe this year would fill with learning new language, and I really hope in the end of 2026, I can speak arabic and japanese. I want to save my money more to traveling, and go somewhere not in my homeland for new experience. It's so sad that knowing myself isn't eligible for aboard life, the main reason I start my language class. How can other people look so easy to change their passport to other country, when I still watching some k-drama in my room from this island?
Right, maybe I'm too daydreaming, they said I'm not grateful daughter cause I always in different city, far from parents. But if I can make an excuse, I want to life better with them. In money, love is something you should trade. They're easier and unconditionally love is something that parents will give to you, meanwhile money isn't like that.
In my case, i do not trade love for money. But I trade them for experience. Yes, this sounds loveless or egoist, but I want to be someone better than them, I try my luck, my mom's dua, and my dad's eyes, for something i never see. Sound sad, but actually my toxic trait is make it myself seen for me.
I'll write something better next month. this is just brainrot. see you next time.