Top Social

cerita-cerita untuk dikenang

Perhaps.. I Need a Break..

Senin, 23 September 2024

 Midnight again, and because of my lack of energy, my weekend schedule are ruined.


Been a 2 years since I had some kind of symptoms, but this year, in my 27th, kinda think it's getting more worst. I need a pills for sleep now, when i'm not drink it, I could say my body will stay awake 24/7. And well I'm scared. With this condition, I just need a rest. A long rest maybe.


A rest that I don't think about how money on my bank account, the monthly payment, the trend I should keep up for content, and so on. Everyday is getting worse and I just want to quit, but they seems like don't want to letting go. And I can't bravely said I want to quit right now, because everyone around me is 00's kid who got their 1st life attack (quarter life crisis). But when I think about people, somehow I got sad knowing that they don't actually thinking of me.


Well, it's not like the first time to me. I used to be the shield or protector for everyone since the very beginning when I can remember. But, at my worst, I feel sh**ty. They could throw me away but I couldn't do the same. 


Hate is a strong words. So maybe... I just.. dislike? 


Is this a sign for me to get professional help? Or I just... need a career break?


Bertarung dengan aku

Senin, 09 September 2024

 Satu hari, kusampaikan keinginan pada mereka yg sudah membersamaiku sejak lahir. 


"Aku ingin pergi dari sini." Ucapku serius. 


Obrolan panjang dan doa-doa memenuhi ruang dan yg mengejutkan bagiku adalah mereka setuju. Ingat waktu pertama kali kakiku harus ada di Jakarta dengan surat undangan kampus swasta yang harus kuhadiri interview-nya itu, didiamkannya aku tiga malam karena mereka khawatir bagaimana nasibku nanti jauh dari mereka.

Sembilan tahun terlewati. Rasanya Jakarta adalah rumah dan mereka hanya tempat istirahat sesekali saja. Padahal rumahku bukan di Jakarta. Tapi teman-teman dan kenalanku ada disini. Suatu hal yg masih asing bagiku mendapat izin pergi jauh, setelah puluhan tahun lamanya semenjak aku bisa mengingat, aku itu tidak boleh kemana-mana.


Tentu senang. Tapi yg kemudian jadi beban pikiran adalah

Bagaimana caranya aku kesana? Aku ingin diundang supaya punya alasan pergi, tapi ragu bagaimana kalau aku ternyata tak sanggup? 


Dan semua orang yg kupercaya mengatakan kalau aku mampu dan bisa. Sedang aku dan isi kepalaku sibuk berdebat soal hal-hal yg paling tidak mungkin terjadi. Entah ini doa siapa yg menembus langit, tapi di saku bajuku, telah kukantongi izin dari mereka dan doa-doa orang yg kusayangi. 


Semoga jika tahun depan bisa terwujud, aku ingin memberi doa yg sama pada mereka-mereka yg takut untuk melangkah. Sama sepertiku hari ini.