Tengah malam, ditengah kejaran deadline dan desiran darah di kepala karena menahan sakit yang suka tiba-tiba ada, tersadar kalau ini adalah ramadhan terakhir setelah tiga kali berturut kerja di area China Town. Mungkin di awal bulan nanti, akan ada pengumuman, atau tengah-tengah, tapi tidak yakin di akhir bulan Maret.
Ada yang menyeruak didalam diri. Mungkin itu senang setelah sekian lama menunggu, mungkin juga itu perasaan lega akhirnya keberanian yang malu-malu itu terkumpul. Tapi, mungkin, itu juga perasaan sedih.
Melepaskan sesuatu gak pernah ada di kamus hidupku.
Karena sebelum sempat aku melepas, ia atau mereka memilih untuk melepasku terlebih dulu. Jadi ini adalah momen besar, untuk pertama kalinya dalam hidup untuk melepas. Sesuatu yang awalnya kupercayai bahwa mercusuar itu bisa terang, sesuatu yang awalnya kupercaya bisa mendorongku menemukan sesuatu. Dan telah sampailah aku di titik terang itu.
Aku belajar untuk berhenti jadi orang naif. Di tempat yang suara-suara panggilan-Nya terdengar sayup, justru disitulah penjagaan-Nya menjadi sangat tinggi. Suara toa-nya memang hampir tak terdengar, tapi justru jadi alarm paling keras buat seseorang yang naif tersadar, dunia ini perlu diperjuangkan.
Meski banyak hal yang aku dapat, akhir-akhir ini aku menemukan diriku ada di titik penuh keluhan. Ada saja cuilan kata yang jadi bensin atas api-api masalah. Kurang ini lah, kurang itu lah. Semua hal jadi banyak kurangnya. Padahal jika melihat aku di dua tahun lalu, justru menjadi pembela nomor satu sang mercusuar.
Sadar bahwa kurangku banyak dan gap kebutuhannya makin jauh. Aku yang tak mampu kejar, meski mengusahakan yang paling terbaik versiku, tampaknya lebih terlihat kekuranganku di mata sang mercusuar. Dan sebagai pengembara di lautan, aku kelelahan. Pun dengan mercusuar-nya, ia lelah memandu dengan terangnya.
Would you love me in my lowest muncul ketika sedih itu hadir. Ini bukan hal yang lazim karena biasanya berbagai perasaan itu datang tiba-tiba dan tidak pernah satu-satu. Sampai bingung apa yang sedang kurasakan itu. Tapi kali ini jelas sekali, hanya ada sedih.
Kalau dijabarkan alasan sedihnya, sudah pasti top of mind dari kepalaku adalah kegagalan memenuhi ekspektasi orang-orang yang sudah memberiku kepercayaan. Lalu disusul dengan pemikiran bahwa keuanganku mungkin akan berguncang di usia yang jauh dari kata freshgrad. Dan disusul lagi dengan pemikiran lainnya.
Aku juga ingin bertahan. Aku sudah tidak ingin jadi pengembara.
Tapi rupanya jangkar itu sudah menggantung diatas kapal, dan ombak mulai menggiring ke arah laut lepas lagi. Mercusuar pun sudah berganti lampu dan warna catnya. It's getting real, pengembaraanku baru akan dimulai lagi.
Episode baru akan dimulai dengan pertanyaan yang menggelitik.
Would you love me in my lowest?
Because if you do, honestly I feel burden yet feel grateful
Because if you don't, honestly I can understand yet feel so sorrow
Because if you don't, I probably think its fine for born, life and die alone.
So If you love me in my lowest, tell me how and show me.