2020 akan berakhir dalam kurang dari satu jam lagi, dan rasanya masih banyak hal yang belum terselesaikan untuk menjadi pribadi yang utuh. Keluhan demi keluhan berjejalan memenuhi media sosial, ikut menambah pekat di hati yang masih keruh. Tapi di penghujung tahun ini, dalam waktu kurang dari setengah tahun ini, seketika segala masalah jadi terlihat lebih kecil.
Menjadi tegas tidak pernah mudah, buatku.
Semua jalan, semua bergerak, semuanya dilakukan dalam satu waktu.
Jenuh itu kemudian memeluk erat-erat dan tekanan semakin berat, tapi yang paling menyebalkan adalah perasaan 'kok gini-gini aja hidupku' padahal aktivitas ga main-main.
Banyak cari tahu, tapi gak bisa ngatur waktu.
Banyak mau, tapi gak tahu mana prioritas nomor satu.
Ternyata oh ternyata, yang salah bukan waktu. Tapi, aku!
Aku terlalu buta untuk melihat apa yang dimiliki, dan terlalu ingin punya apa yang menjadi milik orang lain. Lalu saat pertengahan tahun bertemu denganmu, seketika pandanganku tentang dunia jadi makin lebar dan spesifik.
Kesehatan itu penting.
Orang tua lebih penting.
Uang bisa dicari, kasih sayang orang tua harus disyukuri.
Pertemuan denganmu, tak lantas berhenti sampai aku dan kamu saja. Aku bertemu dengan adikmu yang kemudian menjadikanku orang paling istimewa dalam hidupnya.
Aku dan adikmu saling mengisi. Tetapi sayangnya, takdir memelukmu dalam dekapan ilahi. Bukan aku. Masa-masa duka menyelimuti kita berdua puluhan hari.
Tapi kamu bangkit lebih cepat dibandingkan aku. Malam-malam masih jadi ratapan, sedangkan kamu sudah sibuk bekerja lagi. Aku melihatmu, dan mencoba menirumu untuk menjadi tegar.
Dulu, aku
Ya, aku ingin bekerja di tempat keren, punya gadget keren, gaji tinggi dan tanpa sadar jadi meremehkan diriku.
Seperti dari judulnya, kalau berawalan tapi.. apakah bisa berakhir bahagia?
