Baru terpikir sore kemarin. Saat notifikasi menumpuk beradu menjadi paling atas. Mereka ingin mendapatkan perhatianku dan membukanya, Lucu karena yang kulakukan selalu adalah menggeser kiri semua notifikasi dan membuka sendiri aplikasi yang kumau. Ada sebuah pesan. Ah, bukan. Ada begitu banyak pesan. Ku baca satu-satu dari atas ke bawah.
Tersadar bahwa orang asing pun bisa peduli pada orang lain -pada kita.
Kepedulian adalah salah satu pintu dari kasih sayang.
Kasih sayang terdengar asing ditelingamu. Sebab dengan begitu banyak kepahitan yang ditelan tanpa tegukan air tiap harinya, membuatmu jadi mati rasa. Mereka bilang waktu bisa menyembuhkan luka. Tapi kamu tidak setuju dengan itu. Kamu merasakan sendiri bagaimana waktu, hanya memberi jeda pada setiap kesakitan yang datang. Ada kalanya meski sudah berlalu tujuh atau sepuluh tahun, rasa sedih atau takutmu tiba-tiba datang, menyeruak masuk memenuhi sela-sela kalbu yang susah payah diperbaiki. Menyerang hingga ke inti di siang hari yang tenang. Kamu yang tanpa persiapan tentu terlalu kaget hingga cuma bisa menangis dibawah langit yang cerah.
Mungkin kamu ingin berhenti bernafas hari itu. Terlalu banyak patah yang tidak bisa kamu tampung rasa sakitnya. Air mata dan sakit kepala sudah saling beradu membuat isi kepalamu penuh dan melantunkan sebuah requiem. Lucunya, meski kamu ingin melepas kesakitan itu, mereka mendekapmu erat seolah tidak rela kehilanganmu dan menjadi benalu. Dan begitulah kamu hidup berdampingan dengan rasa sakit setiap harinya.
Untuk waktu yang lama, kamu bertemu wajah baru. Wajah yang peduli, meski mereka bukan dari ring satu pertemananmu. Wajah-wajah yang sungguhan mendorongmu keluar dari kolam air matamu sendiri. Dengan ucapan-ucapan sederhana, mereka menyambutmu. Kembali ke posisi nol. Posisi dimana tanpa membawa rasa sakit pun bukan posisi dimana kamu sudah ada di posisi terbaik. Nol ada netral. Kesedihanmu ada di posisi minus. Kebahagiaanmu ada di posisi plus.
Rasa saling menghargai biasanya jadi tuas terakhir pertahanan. Menghargai, atau kalau kita biasa sebut, gak enakan. Perasaan itu, yang harus kamu genggam hingga titik akhir. Saat duka dan kesedihan menjadi benteng yang menghancurkanmu, ingatlah perasaan gak enakan itu.
Karena kamu yang hidup, berarti menghargai mereka yang peduli.
Kamu yang hidup, artinya menolong dirimu sendiri untuk berubah.
Memang butuh waktu. Akan ada hari dimana kamu bisa tiba-tiba menangis karena ingat sakitnya. Tapi akan lebih banyak waktu dimana kamu bisa tiba-tiba tertawa hanya karena celetukan asal bunyi dari wajah-wajah yang peduli padamu.
Kamu yang hidup, menghargai pemberian Tuhan.
Kamu yang hidup, adalah keberanian.
Tak usah risau soal kesuksesan. Tiap orang punya sajadah masing-masing untuk menghadap kiblat yang sama. Semua orang punya waktu bagi yang bernafas.
Tapi bagi yang tak bernyawa, waktu itu berhenti. Sajadah tergulung meski masih sama menghadap kiblat.
Kamu yang hidup, ternyata banyak yang peduli.
Akan ada kesedihan pada wajah-wajah itu, kalau masih memilih pergi.