Top Social

cerita-cerita untuk dikenang

Is being friendless really what makes you feel calm?

Jumat, 01 Agustus 2025

Sebuah pagi di Agustus yang menimbulkan banyak pertanyaan. Sebuah konten muncul di halaman sosial media karena ada mutualku yang mempublikasi ulang. Isi kontennya soal perempuan yang gak punya banyak teman itu bisa baca 'energi' dan segudang kelebihan lainnya. Aku jadi kayak WHAT?!


Mulai dari spiritualitasnya tinggi jadi bisa 'baca' orang, kecenderungan menghindari trauma berulang atas pengkhianatan teman, sikap yang selalu waspada, sampai disebutkan di situ kalau they're (aku sebut they karena mengatasnamakan a group of female) adalah orang yang tenang.


Isi kolom komentarnya tentu saja pro kontra. Sebagaian tidak setuju karena isinya terlalu memvalidasi orang yang avoidant, sebagian lainnya tervalidasi dan sangat setuju dengan konten ini. Aku sendiri lumayan heran ternyata ada yaa orang yang butuh di-validasi tentang ini. Sebagai orang yang avoidant, aku justru sangat gak suka dengan pembahasannya yang gak ada arah selain cuma mau bikin para perempuan jadi orang yang demen mendem. 


Aku sadar, punya teman yang satu pemikiran is a blessing. Tapi bukan berarti gak bisa dicari dan dipertahankan. Instead of ngasih makan ego pake narasi 'bisa mencium energi tanpa orang buka mulut' karena 'katanya' spiritualitasnya lebih tajam, menurutku lebih baik orang-orang yang sering dikecewakan sama teman itu bisa sembuh dari rasa sakitnya dulu.


They need to figure out what kind of heartbreak affects them most, so they can build healthy friendship boundaries instead of avoiding people altogether. Some people are trash, I agree. They can hurt us when we really believe in them. And sometimes, good people get hurt the most, because they’re not used to standing up for themselves. 


Intinya, I really hate the way that's account narration : gak punya teman itu gak seburuk itu. 


Girl, if you don't have a friend tuh cuma ada dua kemungkinan: satu, mereka bermasalah dan kamu menghindari semua permasalahan. atau yang kedua, kamu yang bermasalah dan semua orang menghindarimu. 


Buat poin nomer dua (aku bahas duluan sebelum dihujat netijen), coba tanya dirimu sendiri seberapa jujur kamu dipertemanan yang pernah terjadi itu. Apakah kalau kamu senang, kamu kasih tau teman-temanmu? kalau kamu lagi gak suka sama sikap mereka, apakah kamu kasih tau temanmu saat kejadiannya atau tunggu nanti pas semua kekesalanmu udah menggulung? Apakah kamu pernah bener-bener tanya dari hati ke hati sama temanmu, tiap ada permasalahan yang bikin hatimu gak enak?


DUH jadi inget webtoon girl's world episode Sunji. Di webtoon itu, Sunji punya temen dari TK. Dia sekolah bareng sampe SMP, kemana-mana ngekor si temennya itu dan dengerin curhatan ataupun nolongin apa aja. Temennya ini orang berada, sedangkan Sunji miskin, jadi Sunji ngerasa punya 1 temen aja cukup kok. Tapi beda sama temennya ini, dia temenin Sunji karena Sunji cantik dan genk-nya bisa narik perhatian di sekolah. Suatu hari, temennya ini malah fitnah dan bikin Sunji dijauhin sama anak angkatannya. Kebayang gak jadi Sunji, udah mah temen cuma satu, orang yang dia percayain jadi temen malah ngefitnah. Tapi Sunji gak mendem doang. Dia beneran ngajak ngomong one on one sama temennya itu. Dia kasih tau kalau dia sedih, pertemanannya udah gak bisa ketolong lagi jadi jangan minta tolong apapun ke Sunji. Terus pas SMA, dia tetep punya teman baru. Bahkan dia jadi punya batasan, gimana sih caranya berteman secara sehat.


Bisa liat bedanya gak?


Sunji dikecewain temennya, tapi dia gak lantas meng-avoid orang yang mau temenan sama dia. Awalnya pun Sunji avoid bantuan oranglain karena kata Sunji "aku udah terbiasa sendirian. Untuk sementara memang berat tapi seiring berjalannya waktu pasti akan baik-baik saja" tapi pas ada orang yang approach Sunji duluan, dia gak yang menarik diri. 

Jujur bagus banget buat dibaca buat kalian wahai teman-teman perempuanku yang avoidant. Ini komik kasih pembelajaran hidup.


Karena dia mau JUJUR sama dirinya sendiri, dan mau JUJUR kasih tau orang yang dia mau percayain lagi.


Jadi kalo mengutip quotesnya Sunji: 

"Seseorang terlihat dari bagaimana dia menjalani hidup. Aku gak mau mencurigai temanku yang berharga. Gak ada alasan untuk itu. Karena itulah, kuharap sekarang kamu juga menghentikan hal ini (permasalahan mereka) dan bisa merasa tenang. Bukankah berat terus-terusan memandangnya (permasalahan pertemanan) dengan cara itu?"


In islamic term, Sunji mengikhlaskan qodo dan qadar yang terjadi. 


Terus buat poin nomer 1,  ada sebuah dialog Sunji yang aku kayak wahh banget. Kalimatnya ini:

Pikirkanlah baik-baik, apa kamu memang benar-benar membutuhkan teman, atau membutuhkan orang yang mau mendengarkan cerita kesusahanmu. 

Kadang, orang lain emang bermasalah dan kamu gak tau cara 'cabut' dari permasalah itu selain ngikut arus demi menghindari semua permasalahan yang lebih besar. Jadinya kemungkinan kamu mendem dan sakit hati sendiri lebih besar. Tangki perasaan cinta kamu pun bisa habis dan merasa lelah.


Kalau udah sampe mentok dan bikin tangki perasaanmu kosong, berarti emang ada yang salah dari pertemanan itu. Buatku, punya teman berarti ada hal yang bisa kubagikan dan bisa kuterima dari mereka. It's not about money and fame, tapi a story. 


Cerita itu gak harus yang deep talk melulu atau rahasia elit global. Tapi harus berimbang, kamu cerita, dia juga cerita. Kalau minta solusi, ya dikasih tapi kalau gak diminta jangan jadi orang sotoy yang menggurui. Cerita yang di share gak dijadiin bahan olok-olokan ke temen lain dan saling respect sama keputusan temanmu yang mau ceritain itu. Say thank you tiap curhat juga boleh banget loh, apresiasi ke temen udah mau berbagi beban hidup. 


Makanya aku bilang sebelumnya, kamu udah jujur belum sama dirimu sendiri dan temenmu. Jangan sampe jadi punya mental korban dan cari validasi buat membenarkan perbuatanmu yang belum tentu udah saling kasih benefit di pertemanan.


Kalau udah effort segala macem dipertemanan lalu dikecewakan, gimana? Gak enak tau, mau punya temen lagi pun udah capek.


Nah, yaudah itu tulis 10 hal yang bikin kamu capek punya hubungan pertemanan. Ada gak 10 hal yang bikin kamu capek? Aku yakin paling cuma 2-3 hal aja, mentok-mentok di 5 hal, sisanya bingung apa lagi yaa yang bikin gak mau punya temen. Terus kamu akan sadar, ternyata selama ini kamu cuma membelenggu diri sendiri, bikin dirimu jadi kayak ada di sebuah kepompong buat self-defense. Instead of keluar jadi kupu-kupu, kamu malah jadi ulat yang lumpuh didalam sana sambil bawa beban sayap-sayap indahmu itu. BERAT SHAYYYY~


Eits jangan pikir itu udah selesai. Kamu wajiib bikin 10 hal yang kamu mau banget punya di sebuah pertemanan. Lingkungannya seperti apa, karakter orangnya yang jadi temenmu nanti gimana, apa yang kamu rasakan, kalau ada konflik kamu mau penyelesaiannya seperti apa, dan lain-lain. Pasti bisa nulis bahkan lebih dari 10. Terus kamu jadi sadar, kalau dirimu itu udah punya 10 kriteria ini di diri sendiri belum, sudah punya frekuensi yang sama kah dengan hal yang kamu inginkan.


Barulah di poin ini, aku akan bilang jadi perempuan yang tenang itu memang butuh waktu. Perjalanan mencapainya tidak mudah. Perempuan yang tenang memang bukan orangnya punya milyaran teman, tapi ia sudah pasti punya banyak teman yang membantunya meraih titik tentram itu. Bukan perempuan yang menghindari pertemanan dan melabeli dirinya sebagai strong woman.


I genuinely hope my female friends get to experience this kind of calm, having 1 to 5 close friends they can really talk to and share life with. Pliss girlss you deserve kok punya temen deket!

Being an independent woman doesn’t mean you can’t lean on others.

Friendlessness isn’t peaceful, it’s a draining phase. It’s not silence, it’s loneliness you’ve grown used to.

So don’t be surprised if you keep attracting people with the same emotional numbness.
Change your vibe first. Heal. Stop seeking validation from strangers on social media. Try seeking help from a professional, or join a hobby-based community instead.

You deserve real connection, not just attention.





Segitu dulu overthinkingan di August 1st. Happy birthday to whoever you are today. Cheers!