Satu hari, kusampaikan keinginan pada mereka yg sudah membersamaiku sejak lahir.
"Aku ingin pergi dari sini." Ucapku serius.
Obrolan panjang dan doa-doa memenuhi ruang dan yg mengejutkan bagiku adalah mereka setuju. Ingat waktu pertama kali kakiku harus ada di Jakarta dengan surat undangan kampus swasta yang harus kuhadiri interview-nya itu, didiamkannya aku tiga malam karena mereka khawatir bagaimana nasibku nanti jauh dari mereka.
Sembilan tahun terlewati. Rasanya Jakarta adalah rumah dan mereka hanya tempat istirahat sesekali saja. Padahal rumahku bukan di Jakarta. Tapi teman-teman dan kenalanku ada disini. Suatu hal yg masih asing bagiku mendapat izin pergi jauh, setelah puluhan tahun lamanya semenjak aku bisa mengingat, aku itu tidak boleh kemana-mana.
Tentu senang. Tapi yg kemudian jadi beban pikiran adalah
Bagaimana caranya aku kesana? Aku ingin diundang supaya punya alasan pergi, tapi ragu bagaimana kalau aku ternyata tak sanggup?
Dan semua orang yg kupercaya mengatakan kalau aku mampu dan bisa. Sedang aku dan isi kepalaku sibuk berdebat soal hal-hal yg paling tidak mungkin terjadi. Entah ini doa siapa yg menembus langit, tapi di saku bajuku, telah kukantongi izin dari mereka dan doa-doa orang yg kusayangi.
Semoga jika tahun depan bisa terwujud, aku ingin memberi doa yg sama pada mereka-mereka yg takut untuk melangkah. Sama sepertiku hari ini.