Top Social

cerita-cerita untuk dikenang

Hidup Yang Katanya Membosankan

Rabu, 07 Agustus 2024

Kayaknya, dari tahun 2017 aku sering denger keluhan soal bosan. Berkali-kali (pada waktu itu lagi dekat sama orang) dia bilang kalau hidupnya ga ada yg penting. Semua sama aja. Meskipun kontra, pada waktu itu aku sendiri ga menemukan sesuatu yg menggembirakan selain pesan-pesan singkat dari dia.


Pertengahan 2024 ini, aku baru menyadari kalau ucapan dia masuk akal buat anak laki-laki di umur 20an awal. Yang mana waktu itu aku ga relate karena banyak sekali hal yang harus dikejar terutama masalah finansial. Aku ga merasa hidup itu membosankan, tapi aku sadar sejak aku lahir hidupku itu sepi. Aku terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri, dan sendirian itu ga membosankan untukku. Apalagi sederet jadwal mengajar sebagai asisten lab dan pekerjaan sampingan sebagai fotografer nikahan membuat kesibukan yang herannya aku bisa lalui dengan baik-baik saja atas pertolongan-Nya.


Umur 20an awal bagi yang kuliah, pasti isinya hanya nugas, masuk kelas, pulang. Kalau punya hobi, mungkin pulang kampus berkegiatan dengan hobinya. Yang ga punya? Ya Tidur. Soalnya kalau pergi sama teman pasti harus keluarin uang, anak kuliahan mana sanggup sering-sering pergi sama teman kalau orang tuanya bukan dari kalangan berduit? Sedangkan aku dan dia sama-sama orang biasa aja.


Ngomongin hobi, aku suka sekali baca. Entah buku, komik, cerita2 di tweet, apapun. Jadi rewardku di umur 20an awal yg ga punya duit itu, yaa baca tweet. Trus dia bilang aku harus cari kebahagiaanku sendiri karena dia merasa terbebani sama ekspektasiku, aku jadi mikir ulang, baca tweet tuh bikin bahagia gak sih. DAN AKU JADINYA DEACTIVE AKUN. Benar-benar umur 20an awal tuh ajaib banget ya (dan bodoh).


Memasuki umur 22 tuh aku terlalu sibuk ngilangin rasa sakit hati dengan kerja. Satu-satunya rasa bosen yang aku inget di umur segitu tuh yaa aku bosen stay di depan laptop nulis 100 artikel sebulan. Tapi sebosen-bosennya, aku jadi penulis artikel setahun penuh. Dan masih harus ngulang fase sakit hati di umur 25. 


Lalu kutelaah lagi..


apa ya, yang kurang..

apa yang salah..

apa yg harus diperbaiki..


Lantas umur 27 tahun sudah didepan mata,

hal-hal yang dulu menjadi rantai bola besi di kaki perlahan bisa kulepas, kuncinya sudah ada digenggaman. Aku sudah memeluk diriku, tapi perlu banyak poles dan perbaikan di banyak sisi agar tidak lagi bodoh dan menyebalkan seperti aku di masa remaja dan 20an awal.


At this moment, I realize when we do nothing, the sparks of joy in live a life is also gone. When I lose the spark of living, it's because I don't hold on believe Allah will provide me. The excitement for living is run out of battery since then..


Maka di umur baru yang tinggal menghitung mundur, aku ingin hidup ga asal-asalan lagi. Aku mau punya tahapan-tahapannya dengan benar, bukan asal cepat aja. Aku mau rasain capeknya, letihnya, tangis dan tawanya. Aku mau prosesku yg sungguh-sungguh sebagai bentuk tanggungjawab serta tebusan atas 26 tahun menjalani hidup untuk menyenangkan orang lain dan memenuhi ego mereka.


Kali ini, untukku sendiri. Semoga doa-doa orang tuaku, sahabat-sahabatku, dan juga orang-orang yg tidak sengaja kutemui saat perjalanan ini terkabul agar tercapai hidup yg sesuai ridho-Nya. Bukan cuma bagusin bungkus, aku mau isinya juga bagus. Dan aku tau itu semua prosesnya ga mudah kecuali Allah yg memberi kemudahan.


Hidup itu membosankan? Kayaknya nggak deh!

Hidup gak pernah membosankan ketika punya tujuan.




Barakallah Fiikum.