Mungkin sesuatu yang tidak pernah terbayang dalam seperempat abad hidupku ini, adalah tentang menentukan sesuatu. Kupikir, aku cukup hebat bisa melakukan apa yang kumau, sesuatu dimana orang lain belum tentu mendapatkannya. Berlalunya waktu, justru aku menemukan kalau aku tidak pernah benar-benar menentukan sesuatu atas dasar diriku sendiri. Selalu, selalu berdasarkan apa yang mereka minta dariku untuk berhasil. Sesuatu yang mereka bilang aku punya potensi untuk itu, dan aku mengusahakannya sebagai bentuk tanggung jawab. Selalu seperti itu, sampai aku tidak sadar kalau aku tidak pernah menentukan sesuatu karena diriku yang menginginkannya.
Aku selalu takut salah.
Sebab jika aku salah, ada orang lain yang menjadi samsak kesalahanku.
Dan aku,
benci
ketika ada orang lain yang disalahkan padahal seharusnya itu aku.
Dan aku,
lebih benci
kepada diriku yang tidak bisa apa-apa ketika semua kesalahan itu dituduhkan padanya.
Puluhan tahun, terbiasa bertindak auto dengan mereka sebagai kepalanya. Sedang tubuhku jadi mesin untuk membuat pencapaian yang mereka mau. Sama sekali tidak ada kesedihan selama semua orang baik-baik saja. Sampai kuutemukan gelisahku setiap malam, saat semua orang terlelap, mataku terbuka untuk mencari-cari, sebenarnya apa.. yang sudah kutinggalkan selama ini?
Aku turut senang semua kenalanku satu per satu mendapatkan kebahagiaannya. Kekasih yang mereka butuhkan, waktu untuk menikmati liburan, medali lomba, kelahiran anak, dan masih banyak lainnya. Semua orang tampak hebat di mata seorang yang sedang gelisah. Saat aurora borealis nampak di Oslo tahun ini, aku berdecak kagum bagaimana Yang Maha Kuasa bisa membuat skenario yang luar biasa pada tujuh milyar manusia di bumi ini. Tapi aku masih terguyur hujan. Awan mendung masih berarak tiap langkahku, dan ragu masih jadi juaranya.
"Bagiamana jika ini salah?"
"Tapi tidak ada yang bilang ini tidak akan berhasil, kan?"
"Apa nanti kamu akan menyesal jika sesuatu terjadi?"
"Kamu meragukan Tuhan-mu?"
"Tidak, aku meragukan diriku sendiri.."
"Itu sama saja kamu meragukan-Nya. Kamu kan, ciptaan-Nya. Ia tau banget kok yang terbaik buat kamu. Kalau mau nangis ya nangis aja, in the end of the scene you'll alright as long as the faith is still in you, ya kamu kan sudah pernah hopeless tapi bisa bangkit lagi kan?"
Sebelum hujan besar, biasanya langit memberi pertanda dengan renyai. Masih ada matahari dan semua orang yang tidak membawa payung membiarkan tubuhkan terkena air meskipun semenit kemudian mereka melipir mencari teduh.
Mungkin inilah episodenya, setelah dua tahun lebih menjadi statis dan bebal. Setelah tuntas menjadi badan yang dikepalai mereka. Kini saatnya mengambil alih kepala, untuk menjadi utuh. Meskipun pada perjalanannya, aku yakin akan terjadi hujan besar, tapi semoga, semoga saja, aku bisa melewati ini lagi dengan lebih baik tanpa khawatir tubuhku akan basah karena rinai hujan.
[13.5.24 - ditulis saat baik-baik saja]