Angka puluhan seringnya berlaku buruk untukku. 11 malam tadi aku kehilangan alat tukar bayar dalam sekedipan mata, dengan gelisah dan banyaknya pikiran tubuhku terlalu kaku untuk diajak beristirahat.
Aku sudah lelah dan payah sejak puluhan hari lalu karena banyaknya isi pikiranku, dan tidak terimanya aku pada takdir-takdir yg sudah dirangkai-Nya. Aku kepayahan namun iblis dalam diriku bilang aku mampu, aku bisa, aku tahan dengan segala apa yg terjadi. Semua bisa terjadi kalau aku mau.
Sebuah pernyataan sombong dari makhluk yg tidak punya kuasa apa-apa, tidak setitikpun tenagaku mampu. Tidak tahu diri dan banyak berlagak menjadi si paling jagoan hanya karena berhasil memiliki satu dua hal dari keinginan dunia yg ditulis.
Bodoh, sekaligus tidak tahu malu. Kombinasi kurang ajar yg harusnya aku malu, tapi lagi-lagi iblis dalam diriku menyalakan ego, membakar semua kayu-kayu rasa malu hingga hangus.
Tahun ini tunai sudah aku menenggak hasrat yg terpendam soal uang. Semuanya atas nama ingin hidup sebebas yg aku mampu, keputusan-keputusan yg kubuat tahun ini dasarnya untuk membeli kelas, bukti kepada diriku sendiri kalau aku mau aku bisa. Iblis bersorak untukku, angkuh menjadi senjataku.
Esok lusa sudah akan berganti tahun, genap akan kembali ganjil, seperti bagaimana roda yg berputar, aku pun akan kembali agendaku mengokohkan akar. Hal yg setahun kebelakang aku sengaja tinggalkan demi menjadi angkuh, demi menghidupi mimpi di status sosial tertinggi.
Kalau kamu tanya bagaimana bisa aku begitu, jawabanku cuma satu: penasaran. Setelah aku tahu rasanya, merenung, dan berkontemplasi, ini adalah hal yg kuinginkan dan dikabulkanNya. Bukan aku yg berkuasa, tapi Yang Maha Esa.
Iblis dalam diriku berontak, protes mereka karena harus turun kelas. Sedangkan sisi lainnya berteriak girang.
Si umur 27 yang penuh rasa penasaran, mungkinkah tujuan hidupku hanyalah untuk bersantai dan menikmati apa yg Tuhan hidangkan daripada mencari tahu apa yg belum terjadi?